Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Jelang Akhir Tahun, Stok Daging Sapi Surplus Seribu Ton

03 Desember 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

STOK AMAN: Pedagang daging di Pasar Wonokromo di Surabaya.

STOK AMAN: Pedagang daging di Pasar Wonokromo di Surabaya. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Menjelang akhir tahun, stok daging sapi di Jawa Timur dipastikan aman. Harganya pun stabil. Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Wemmi Niamawati mengatakan, pekan depan pihaknya mengadakan rapat koordinasi dengan semua pelaku usaha di bidang peternakan.

Seperti rumah pemotongan hewan (RPH) dan rumah pemotongan unggas (RPU) serta Dinas Peternakan seluruh Jatim. "Kita berharap tidak terjadi inflasi dan harganya terjangkau. Kalau ada kerawanan biasanya harganya naik 5 persen,” ujarnya.

Wemmi mengatakan, kebutuhan daging sapi untuk bulan Desember diperkirakan sekitar  9.131 ton. Stok daging sapi yang ada 10.185 ton. “Jadi, ada surplus seribu ton lebih untuk daging sapi. Kita prioritaskan untuk masyarakat Jatim dulu, baru kemudian luar provinsi,” katanya.

Menurut Wemmi, stok daging sapi  berasal dari peternakan yang ada pada hampir seluruh kabupaten/kota di Jatim. Ini karena Jatim merupakan sentra sapi potong. Peternakan sapi ada di Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Magetan, Nganjuk dan beberapa daerah lagi. "Yang paling banyak adalah Madura, khususnya Sumenep,” jelas Wemmi.

Wemmi menegaskan, meskipun daging impor boleh masuk, ia memastikan Jatim tidak akan impor. “Yang impor biasanya hotel, restoran, katering dan industri yang memiliki nomor kontrol veteriner (NKV),” ungkapnya.

Daging impor yang masuk ke Jatim pun terbatas pemanfaatannya. Tidak untuk diedarkan di pasar-pasar tradisional. Hanya beberapa pasar swalayan yang boleh. "Yang terpenting memiliki NKV,” katanya.

Wemmi juga mengingatkan semua RPH agar tidak memotong sapi betina demi menjaga ketersediaan sapi maupun daging segar. Kalaupun ada sapi betina yang dipotong, harus memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan, yaitu minimal sembilan tahun dan sudah tidak produktif lagi.

Hal ini sesuai dengan Perda Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pengendalian Ternak Sapi dan Kerbau Betina Produktif. Penentuan pemotongan sapi betina pun harus melewati pemeriksaan oleh Pengawas Kesehatan Masyarakat Veteriner. “Kalau semua sapi betina dipotong, ya habis stok di Jatim. Jadi, sapi betina tidak boleh dipotong sembarangan," tegasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia