Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Ceraikan Istri Gila Agar Bisa Nikah Lagi

03 Desember 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Apa Donwori jahat? Belum tentu juga. Karena kita tidak bisa menghakimi seseorang, sebelum mengetahui benar apa yang mereka alami. Camkan itu pembaca! Warganet juga yang suka nyinyir!

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

"Mangkane, mangkane. Dadi wong wedok mbok yo sing neriman. Yo ngene iki akibate wong gak bersyukur," sewot Mira, kakak kedua Donwori saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, pertengahan pekan lalu. Mira kala itu sedang mengantar Donwori mengurus cerai. Maklum, pernah sekali cerai membuatnya pantas jadi guide perceraian adiknya. Eh!

Celetukan di atas, Mira tunjukkan kepada Karin, 36. Perempuan yang ‘terpaksa’ Donwori ceraikan gara-gara kena gangguan mental alias gila. Yang kadang bisa bersikap anarkis dan memalukan secara bersamaan. Terkadang, sang ipar bisa teriak-teriak histeris di rumah.

Bahkan, sempat beberapa kali mau mencekik adiknya. Namun tak lama ia menangis sejadi-jadinya. Lalu, beberapa menit kemudian tertawa terbahak-bahak. Pokoknya mirip orang gila. Ya memang gila sih. 

Kadang, Karin juga suka hilang orangnya. Tak ada di rumah, di kampung juga tak ada. Tahu-tahu setelah dicari ke mana-mana ketemu. Rupanya sedang fashion show di pasar. Pamer gigi kuning dan rambut gimbalnya. Kalau sudah begitu biasanya Karin dibawa pulang. Tapi, selang berapa hari kemudian, hilang lagi. Begitu saja ritmenya, berulang-ulang. 

Mira menjelaskan, adiknya tak kurang-kurangnya mengobati Karin. Beberapa kali juga Karin dibawa ke rumah sakit untuk mendapat terapi dan obat. Tapi hasilnya nihil. Iparnya tetap senewen. Sempat juga Donwori membawa Karin ke RSJ alias rumah sakit jiwa. Hasilnya, belum genap sehari semalam, sudah berontak. Kabur  kembali hidup di jalan. "Wes parah wes. Gak kenek diobati wisan," lanjutnya. 

Pertanyaannya, bagaimana ceritanya Karin bisa gila? Apakah ia jatuh terpeleset di kamar mandi lalu kepalanya terbentur lantai sehingga owah? Apa ia kecelakaan lalu gagar otak? Bukan, bukan itu pembaca. Penyebab kegilaan Karin adalah seperti celetukan Mira di awal percakapan tadi. Ya, Karin gila karena tak neriman. (Terlepas benar tidaknya di medis, setidaknya ini yang diyakini Mira) 

Sejak menikah, Karin sudah tahu kalau pekerjaan suaminya hanya buruh pas-pasan. Namun jiwa Karin BPJS. Budget tipis tapi jiwanya sosialita. Kerap ia menghabiskan uang Donwori untuk beli produk make-up dan pakaian. 

Masalahnya, balik lagi, uang Donwori pas-pasan. Karena jiwa sosialita Karin tak mendapatkan asupan, mau marah tapi terbentur keadaan. Akhirnya stres Karin menumpuk dan jadi gila ini.

"Sampeyan ngerti, areke (Karin, Red) lek pas keliling nak pasar ngunu iku, gawe daster, rambutr acak-acakan, tapi wajahe cemong. Lipstikan abang, wedakan putih. Yo gawe perhiasan mainan barang, pokoke macak. Ngunu iku opo lek gak jenenge stres goro-goro tuntutan gaya hidup," jelas Mira panjang lebar. 

Mira menutup obrolan dengan kata-kata iba kepada sang adik. Katanya, perceraian ini bagaimana pun harus dilakukan. Sudah tiga tahun Donwori hidup tersiksa dengan Karin. Hidup saja sudah berat, ia tak punya teman bicara.

Bahkan harus mengurus istri yang sudah tak ingat dengan anak suami. Ia sudah kenyang jadi bahan omongan dan iba orang-orang. Kini saatnya Donwori move on. "Cekne rabi maneh. Mesakne, seenggake cek onok sing masakne," pungkas Mira. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia