Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Sportainment

Eko Yuli Kukuhkan Diri Jadi Raja Asia Tenggara

02 Desember 2019, 23: 16: 27 WIB | editor : Wijayanto

EMAS KEENAM: Lifter Jatim, Eko Yuli, mempersembahkan medali emas di ajang SEA Games 2019.

EMAS KEENAM: Lifter Jatim, Eko Yuli, mempersembahkan medali emas di ajang SEA Games 2019. (ISTIMEWA)

Share this      

Manila - Lifter andalan Jatim, Eko Yuli Irawan, berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia usai juara pada cabang olahraga angkat besi kelas 61 kilogram SEA Games 2019 di RSMC Ninoy Aquino Stadion, Manila, Senin (2/12).

Eko Yuli meraih medali emas setelah mencatat total angkatan 309 kilogram. Lifter berusia 30 tahun itu mencatat angkatan snatch 140 kilogram dan 169 kilogram di clean and jerk atau total angkatan 309 kilogram. Eko Yuli mengalahkan dua pesaingnya Thach Kim Tuan (Vietnam) dengan total angkatan 304 kilogram dan Muhammad Aznil (Malaysia) yang membuat total angkatan 284 kilogram.

Menanggapi prestasi Eko ini, Ketua KONI Jawa Timur, Erlangga Satriagung mengaku gembira dan salut dengan perjuangan Eko. “Saya tahu sebelum berangkat ke Manila, Eko masih berkutat dengan cedera paha dan pergelangan tangan. Namun dia membuktikan kekuatan mentalnya sebagai juara dunia. Ini yang harus dicontoh atlet-atlet lainnya. Meskipun cedera tapi tetap berjuang untuk meraih prestasi tertinggi,” kata Erlangga.

Catatan 309 kg ini masih kalah dibanding raihan Eko Yuli pada Kejuaraan Dunia 2018 dan Olimpiade London 2012. Pada dua turnamen tersebut, ia mencatatkan total angkatan 317 kg. Dengan raihan Eko Yuli ini, total Indonesia sudah meraih enam medali emas di SEA Games 2019.

Indonesia mendapatkan tambahan lima medali emas di hari kedua SEA Games 2019. Medali emas kedua Indonesia disumbangkan oleh Jauhari Johan dari cabor duathlon. Setelah itu, Indonesia mengemas medali emas ketiga dari lifter putri Windy Cantika Aisah.

Cabor menembak juga menyumbangkan dua keping medali emas yang diraih oleh Rio Danu Utama Thabu dan Tirano Bajo pada perlombaan yang digelar di Philippine Marine Shooting Range Total, Manila, Senin (2/12).

Tambahan enam medali emas membuat posisi Indonesia naik ke peringkat ketiga di klasemen perolehan medali SEA Games 2019. Total, Indonesia telah mengoleksi 21 medali di SEA Games 2019, dengan rincian enam emas, delapan perak, dan tujuh perunggu.

Windy Cantika Aisah merebut medali emas pertama dari cabang olahraga angkat besi pada nomor 49 kilogram putri. Windy mengalahkan dua pesaing Pyae Pyae Phyo (Myanmar) dan Ngo Thi Quyen (Vietnam).

Indonesia sebenarnya meraih satu medali emas melalui Dwi Cindy Desyana dari cabang olahraga dance sport nomor women breaking. Namun, medali emas Cindy tidak masuk tabel perolehan medali karena negara peserta dalam nomor ini kurang dari syarat minimal peserta, yaitu empat negara, sehingga hanya menjadi cabor ekshibisi.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menyayangkan dan merasa kecele status dance sport berubah menjadi ekshibisi di SEA Games 2019. Kondisi itu membuat kemenangan atlet dance sport, Dwi Cindy Desyana, tidak dihitung medali lantaran hanya diikuti dua peserta.

"Kalau tidak ada hitungan medali kan bisa saja di awal kita bilang tidak usah ikut. Mereka (panitia SEA Games 2019, Red) juga menjanjikan peluang medali emas, kenapa akhirnya kami putuskan tetap ikut. Nyatanya benar dapat medali dan peluang itu terbukti," tegasnya.

Sebelumnya Dwi Cindy merebut medali emas di SEA Games di nomor women breaking yang digelar di Royce Hotel, Filipina, Minggu (1/12). Cindy berhasil mengalahkan wakil Filipina, Debby Hate, 3-2 pada laga final.

Menpora kemudian menjelaskan kronologi cabang dance sport berubah menjadi ekshibisi. "Jadi memang awalnya dipertandingkan dengan hitungan medali. Tetapi menjelang upacara pembukaan ada council meeting dan baru diketahui ternyata ada dua negara peserta. Akhirnya diputuskan untuk ekshibisi karena untuk dipertandingkan minimal harus ada tiga negara peserta," kata Zainudin

Terpisah, Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Harry Warganegara mengatakan sejak awal tidak pernah diberikan informasi terkait jumlah negara peserta dalam satu cabang ataupun disiplin olahraga. Tugas peserta hanya memasukkan entry by sport, disusul entry by number dan entry by name di setiap cabang dan nomor pertandingan.

"Pada saat council meeting tanggal 29 November baru dibuka oleh PHISGOC (panitia penyelenggara SEA Games 2019, Red) siapa saja yang daftar untuk nomor dan cabor. Awalnya dance sport bukan ekshibisi. Tapi karena pesertanya kurang, berubah jadi ekshibisi. Kalau panitianya serius, dicari dong pesertanya. Mereka harus lobi-lobi," ungkap Harry. (sam/gma/rak)

(sb/rak/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia