Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Khofifah: Jadikan Pesantren Tempat Pemberdayaan Masyarakat

30 November 2019, 15: 50: 33 WIB | editor : Wijayanto

GELIAT PESANTREN: Gubernur Khofifah meninjau stan-stan usai membuka OPO Expo di Gedung JX International.

GELIAT PESANTREN: Gubernur Khofifah meninjau stan-stan usai membuka OPO Expo di Gedung JX International. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka kegiatan One Pesantren One Product (OPOP) Expo yang diselenggarakan di JX International, Jumat (29/11). Ia berharap program OPOP bisa menjadi pintu masuk penyejahteraan masyarakat dan bangkitnya pertumbuhan ekonomi Jatim.

Kegiatan OPOP Expo yang dilaksanakan mulai 28 hingga 30 November itu, memamerkan sekitar 150 produk usaha santri pondok pesantren, koperasi pesantren, dan alumni pesantren.

OPOP diharapkan akan menjadi salah pintu masuk penguatan ekonomi masyarakat, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim."Program OPOP ini sejalan dengan arahan Presiden Jokowi dalam rapat tahunan Bank Indonesia di Jakarta sehari yang lalu," kata Khofifah.

Mantan menteri sosial ini menambahkan, saat sekarang yang terpenting adalah membuka seluas-luasnya lapangan kerja. Dengan mendorong usaha kecil dan menengah (UKM) di kalangan pesantren maka akan mendorong pula penciptaan lapangan kerja. "Satu usaha kecil bisa membuka satu atau dua lapangan kerja. Begitu juga usaha menengah, bisa membuka tiga hingga lima lapangan kerja," urainya.

Khofifah mengaku optimistis OPOP akan memicu pertumbuhan potisif pada produktivitas lapangan kerja, yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Menurutnya, inisiasi program OPOP adalah melanjutkan semangat Nahdhatul Tujjar atau kebangkitan pedagang yang digagas para ulama sebelum mendirikan Nahdhatul Ulama.

"Selain itu dalam Alquran dijelaskan bahwa jihad yang pertama adalah harta benda. Inilah kenapa manusia dianjurkan untuk bekerja keras seolah akan bekerja selamanya," jelas lulusan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) itu.

Khofifah menyampaikan, ada ribuan pesantren di Jatim. Selain sebagai lembaga dakwah dan pendidikan, pesantren diharapkan juga berfungsi sebagai tempat pemberdayaan masyarakat.

"Kami juga menginginkan ada sinergitas dari beberapa pihak, terutama BUMN dan BUMD agar bisa menularkan ilmunya pada pesantren. Ini demi terwujudnya pesantren kreatif, inovatif dan mampu bersaing secara global,” jelasnya.

Menurut Khofifah, melakui program OPOP pelaku usaha berbasis pesantren, baik santri, koperasi pesantren maupun alumni pesantren, mendapatkan pembinaan untuk bisa menciptakan produk unggul. Yang terdaftar legalitas mereknya, berdaya saing untuk kualitas produknya dan memiliki market place yang terjaga.

"Kemudian mereka juga harus diajak untuk melihat hari ini peta pasar mengunakan digital IT dalam proses trading. Maka OPOP tak cukup hanya lari, tapi harus lompat karena potensi lokalnya luar biasa," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jatim Mas Purnomo Hadi mengatakan bahwa kegiatan OPOP Expo diselenggarakan dengan menggandeng lebih dari 40 pondok pesantren. Targetnya akan lahir 150 produk unggulan berbasis pesantren yang lahir di 2019 dan target besarnya mencapai 1.000 produk.

"OPOP Expo ini kami selenggarakan untuk mensosialisasikan program OPOP. Kami mengundang seribu santri untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Karena bukan hanya pameran atau expo saja, tapi juga ada talkshow pembiayaan usaha, lalu program rembuk alumni pesantren. Bahkan ada lomba rebana dan nonton bareng film Sang Kiai," pungkasnya. (mus/opi)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia