Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kurangi Sampah Plastik, Beralih ke Teknologi Oxo-Biodegredable

30 November 2019, 15: 46: 07 WIB | editor : Wijayanto

HARUS DIMINIMALISIR: Penggunaan sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari, harus dikurangi. Salah satu caranya dengan membawa tas sendiri ketika berbelanja.

HARUS DIMINIMALISIR: Penggunaan sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari, harus dikurangi. Salah satu caranya dengan membawa tas sendiri ketika berbelanja. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) nomor 905/IN/DPP/XI/2019 tentang Pengurangan Sampah Plastik Dalam Kehidupan Sehari-hari, mendapat tanggapan dari Koalisi Pemantau Plastik Ramah Lingkungan Indonesia (KPPL-I).

Dalam instruksinya, DPP PDIP menerangkan bahwa limbah plastik yang lama terurai mengandung bahan kimia dan beracun, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya kesuburan tanah, meracuni makhluk hidup, memperburuk kualitas air.

Sementara air yang tercemar digunakan untuk aktivitas sehari-hari, dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Selain itu, dalam poin 1 instruksi tersebut, juga menyebutkan untuk meminimalisir penggunaan  plastik (botol plastik, kantong plastik, styrofoam, sedotan dan sejenisnya) dan menggunakan barang-barang industri yang ramah lingkungan.

Menanggapi instruksi tersebut, Ketua Umum KPPL-I Nasional Puput TD Putra mengapresiasi langkah DPP PDIP yang mendorong penggurangan plastik dan menyemangati penggunaan barang-barang industri yang ramah lingkungan.

Puput menambahkan bahwa saat ini telah hadir teknologi plastik ramah lingkungan yang mudah terurai di alam dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Teknologi tersebut yakni Oxo-biodegredeble yang mempercepat proses degradasi plastik yang semula membutuhkan waktu selama 500-1000 tahun, dipercepat menjadi dua hingga lima tahun saja.

"Teknologi ini mampu mempercepat proses pemotongan rantai molekul plastik melalui bantuan oksigen, sinar UV, panas dan tekanan-tekanan lain yang tersedia secara alami di alam bebas melalui proses oksidasi," katanya.

Lebih lanjut Puput menambahkan, proses oksidasi tersebut memungkinkan mikroba untuk mengonsumsi atau mengurai plastik. Karena itulah teknologi Oxo-biodegredeble dikenal secara umum sebagai dua tahapan degradasi melalui proses oksidasi dan biodegradasi.

"Hal tersebut sesuai dengan regulasi pengelolahan sampah yaitu UU Nomor 18/2008 pasal 20 (3)  terkait Reduce, Reuse, Recycle dan Return to Earth (4R)," jelas Puput.

Menurutnya,  perlu adanya kebijakan kolektif yang dilahirkan oleh eksekutif dan legislatif di tingkat daerah maupun pusat. Untuk mendorong menggunakan teknologi Oxo-biodegredeble dalam industri plastik di Indonesia, agar ancaman sampah plastik dan limbah yang dihasilkan oleh plastik dapat segera diantisipasi.

"Langkah ini akan dapat membantu terciptanya iklim industri ramah lingkungan, salah satunya penggunaan kantong atau kemasan plastik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya. (mus/opi)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia