Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pemprov Siapkan Strategi Transformasi Ekonomi Jatim

29 November 2019, 18: 57: 35 WIB | editor : Wijayanto

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menyiapkan dua strategi dalam rangka transformasi ekonomi di provinsi paling timur di Pulau Jawa ini. Strategi pertama dengan mengurangi ketimpangan antara wilayah utara dan selatan. Kedua, dengan meningkatkan daya saing wilayah ring 1 atau Surabaya dan sekitarnya sehingga lebih berbasis knowledge dan human resources.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Elistianto Dardak menjelaskan, transformasi kebijakan ekonomi ini juga akan difokuskan dari ekonomi berbasis sumber daya alam SDA) ke ekonomi berbasis nilai tambah pada industri manufaktur dan jasa.

Hal ini sengaja dilakukan, untuk meningkatkan daya saing merespons pergeseran struktur ekonomi ke jasa, perkembangan teknologi dan tantangan lainnya. "Jika kita bicara tentang transformasi ekonomi, maka strateginya yakni mengurangi ketimpangan di wilayah utara dan selatan.Serta pada saat yang sama membuat transformasi ekonomi di wilayah Surabaya dan sekitarnya," terang Emil di acara East Java Economic (EJAVEC) Forum yang dihelat di Universitas Airlangga (Unair)

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, lanjut Emil, Pemprov Jatim juga tengah membuka poros-poros industri baru di luar ring 1. Apalagi, wilayah-wilayah di luar ring 1 sebagian besar sudah hampir terkoneksi dengan infrastruktur jalan tol. "Sebanyak 50 persen ekonomi di Jatim ditopang oleh ring 1.

Namun, hal ini justru menunjukkan masih ada ruang untuk pengembangan sektor industri Jatim, utamanya sisi barat dan selatan serta di Madura," terangnya.

Lebih lanjut disampaikan, terdapat empat strategi umum pembangunan yang diterapkan di Jatim. Strategi pertama yaitu development as freedom. Dimana pembangunan untuk memperluas akses dan kesempatan kepada warga untuk memperoleh apa yang dianggap bermakna.

Strategi kedua yaitu pembangunan berkelanjutan yang bertujuan untuk menyelesaikan kemiskinan, pemenuhan kebutuhan dasar untuk menyiapkan Jatim menghadapi disrupsi ekonomi.

Ketiga, pembangunan berbasis kawasan dan terakhir yaitu right based development. "Peningkatan daya saing SDM melalui peningkatan produktivitas juga kami lakukan. Sehingga, bisa menciptakan pendidikan yang berkualitas dimulai dari usia dini hingga menengah," ungkap mantan bupati Trenggalek itu.

Lewat berbagai strategi dan upaya tersebut, Emil optimistis bahwa tren pertumbuhan ekonomi Jatim akan bisa meningkat di tengah kondisi ekonomi seperti ini.

Terlebih lagi, banyak proyek pemerintah pusat berpusat di Jatim, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari. "Kami berharap proyek-proyek ini bisa menyedot investasi ke Jatim, karena banyak peluang dan investasi yang disajikan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan, kegiatan East Java Economic (EJAVEC) Forum ini hanya digelar di Jatim, serta satu-satunya di Indonesia. Untuk itu, Difi berharap kegiatan ini bisa menjadi ikon dan branding Jatim. Apalagi, jumlah pesertanya dari tahun ke tahun semakin bertambah dan makin terdersifikasi.

"Lewat kegiatan ini kita berharap akan lahir paper-paper yang makin fokus dan spesifik tentang penelitian perekonomian di Jatim. Dengan demikian, akan menciptakan daya saing yang tinggi untuk menopang pengambilan keputusan di Indonesia," terangnya. (cin/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia