Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Sportainment
Jelang Pembukaan Sea Games Manila 2019

Kontroversi Biarkan Saja, Prestasi Harus Diraih

29 November 2019, 16: 06: 15 WIB | editor : Wijayanto

Kontroversi Biarkan Saja, Prestasi Harus Diraih

SEA Games 2019 baru akan dimulai pada 30 November, tetapi kontroversinya sudah mulai.

Rahmat Adhi Kurniawan

Rahmat Adhi Kurniawan (ISTIMEWA)

LAPORAN :

Rahmat Adhy Kurniawan-Wartawan Radar Surabaya dari Manila, Filipina

SEA Games 2019 Filipina kali ini akan menjadi edisi yang ke-30 kalinya sejak pertama kali digelar di Thailand pada tahun 1959. Ini menjadi SEA Games ketiga yang pernah digelar di Filipina, setelah 1991 dan 2005, di mana saya mendapat tugas meliput pada saat itu. 

SEA Games kali ini akan diselenggarakan di 23 kota dengan terbagi menjadi empat wilayah di Luzon, Metro Manila, Clark, dan Subic. Dengan mengusung motto “We Win as One”, SEA Games 2019 Filipina kali ini menggunakan maskot bernama Pami atau artinya keluarga.

Sebanyak 530 medali emas pun akan diperebutkan dari 56 cabang olahraga. Jumlah medali yang sangat banyak tentunya, tapi sayang menjelang pembukaannya saja sudah terlalu banyak kontroversi yang terjadi. Tercatat setidaknya sudah ada setengah lusin insiden di SEA Games 2019 yang secara resmi belum dimulai.

Petinju dunia asal Filipina, Manny Pacquiao, ikut angkat bicara soal sengkarut penyelenggaraan SEA Games 2019 di negara itu yang dinilai berantakan.

Pacquiao mengatakan masalah kekacauan SEA Games di Filipina yang selalu dibahas juga oleh masyarakat Filipina bisa mengganggu persiapan para atlet.

Insiden memalukan di SEA Games 2019 yang teranyar tentu adalah menyoal makanan bagi atlet yang tidak layak. Kabar memalukan tersebut datang dari hotel tempat tinggal negara kontingen SEA Games 2019 di mana makanannya itu hanyalah nasi putih, telur mata sapi, dan kikian.

Kikian adalah sejenis otak-otak yang disinyalir dibuat dari daging babi, namun kabar itu langsung dibantah oleh pihak hotel yang menyebutnya sebagai sosis ayam. Apapun itu, tetap saja kandungan gizi dalam menu sarapan yang ada sangatlah tidak layak bagi atlet.

Melansir dari Asean Futbol, didapatkan sebuah informasi kalau para pemain Brunei Darussalam saat bertanding melawan Vietnam, harus menenteng kopernya sendiri. Yang membuat semakin memalukan adalah koper tersebut ditaruh saja secara berjejer di pinggir lapangan.

Besar kemungkinan pemandangan memalukan itu terjadi karena ruang ganti para pemain di stadion tempat Brunei Darussalam vs Vietnam masih dalam tahap pengerjaan. Brunei pun pada pertandingan itu digunduli enam gol tanpa balas, sudah kalah angkat koper sendiri pula.

Stadion Rizal Memorial adalah satu lapangan terbaik di Filipina sehingga dipilih menjadi venue SEA Games 2019. Akan tetap kalau tidak salah ingatan Saya, apa yang ada di Stadion Rizal Memorial hampir tidak ada perubahan dari yang pernah saya lihat 14 tahun lalu saat meliput SEA Games 2005.

Bahkan terdapat dua toilet (tempat buang air) dalam satu kubikel yang artinya tanpa sekat. Tak hanya itu, kondisi wastafel di kamar mandinya juga sangat jorok dengan tumpahan air di mana-mana dan tidak adanya tisu.

Ternyata tak hanya toiletnya saja yang mengkhawatirkan, ruangan konferensi pers di Stadion Rizal Memorial juga terlihat cukup menyedihkan. Tampak temboknya tidak bercat dengan dilengkapi kursi plastik yang biasa dipakai untuk bersantap di warung kalau di Indonesia.

Ruangan yang terkesan kotor nan berdebu itu membuat kursi putih yang ada semakin menambah tidak rapinya konferensi pers di sana. Ini menjadi bukti kalau stadion Rizal Memorial sesungguhnya belum siap untuk ajang sebesar SEA Games 2019, entah apa yang terjadi pada Filipina.

Kembali dari tahun ke tahun, insiden salah memasang bendera terjadi lagi di SEA Games. Kali ini di SEA Games 2019 Filipina, terjadi salah pemasangan bendera Indonesia dalam cabang olahraga floorball atau bola lantai kategori putri.

Bertanding melawan Filipina di Stadion University of The Philippines, Senin (25/11), bendera Indonesia malah menjadi punya Thailand pada tampilan siaran langsung.

Di laga itu sendiri, Indonesia dibantai dengan skor 1-8, bukan masalah hasil tapi rasa kesal bendera yang salah lagi.

Terakhir adalah apa yang dirasakan oleh Timnas Kamboja yang terlantarkan hingga harus tidur di lantai hotel jelang SEA Games 2019. Namun menurut pihak panitia penyelenggara (PHISGOC), telah terjadi miss komunikasi ketika Kamboja tidak memberitahukan kalau datang lebih awal.

Apapun itu, tetap saja sebagai tuan rumah seharusnya Filipina dan PHISGOC harus lebih siap mengantisipasi segala hal termasuk adanya kontingen yang datang lebih awal. SEA Games 2019 belum juga dimulai, tetapi sudah ada sedikitnya enam insiden memalukan yang terjadi.

Apa yang terjadi ini tentunya membuat marah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Presiden Filipina merespon keluhan beberapa kontingen terkait kisruh penyelenggaraan SEA Games tahun ini.

Juru bicara kepresidenan Salvador Panelo mengungkap Duterte memerintahkan penyelidikan terhadap dugaan korupsi hingga memicu pengalaman tak mengenakkan bagi atlet-atlet yang hendak berlaga.

Panelo mengatakan penyelidikan akan mencakup aspek penginapan atlet, akomodasi dan transportasi atlet, hingga konstruksi kaldron yang menelan biaya 45 juta peso, atau sekitar Rp 12,5 miliar).

Panelo menerangkan penyelidikan dugaan korupsi akan mencakup semua penyelenggara, termasuk ketua DPR yang juga menjabat sebagai ketua Komite Penyelenggara SEA Games Filipina (PHISGOC) Alan Cayetano.

Di luar semua kontroversi ini, kontingen Indonesia tetap tidak boleh terpengaruh, mereka harus fokus untuk bertanding dan merebut medali emas sebanyak-banyaknya, atau minimal bisa memenuhi target yang sudah dipatok, 45 emas. (*)

(sb/rak/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia