Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features

ACT: Potret Kehidupan Guru Prasejahtera di Desa #SahabatGuruIndonesia

27 November 2019, 12: 59: 56 WIB | editor : Wijayanto

Dedi Mulyadi bersama murid-muridnya di SD Negeri Pasirlancar 2.

Dedi Mulyadi bersama murid-muridnya di SD Negeri Pasirlancar 2. (ISTIMEWA/ACT)

Share this      

PANDEGLANG - Bertepatan dengan Hari Guru Nasional pada 25 November, Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah meluncurkan program “Sahabat Guru Indonesia” sebagai bentuk apresiasi tertinggi kepada para pahlawan tanpa tanda jasa di Indonesia. Beberapa guru dari berbagai daerah dihadirkan dalam peluncuran program tersebut. Potret kehidupan para guru pun menjadi catatan refleksi bagi pendidikan di Indonesia. 

Dedi Mulyadi, 37, merupakan salah satu guru prasejahtera yang mendapatkan apresiasi dari ACT berupa beaguru. Sudah 12 tahun Dedi menjadi guru honorer di kampungnya. Pekerjaan itu ia jalani walau dengan pendapatan rendah. Alasannya sederhana, sudah menjadi cita-cita Dedi untuk membangun pendidikan di desanya.

Lokasi sekolah yang menjadi tempat Dedi mengabdi berada cukup jauh dari jalan utama Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang. Hal ini karena jalan berlapis tanah dan berbatu tajam menyulitkan mobil bergerak. Sejak 2007, Dedi telah mengabdikan diri untuk pendidikan di kampung kelahirannya itu. Walau gajinya tak terlalu besar, Dedi mengaku menikmati pekerjaannya.

“Bapak saya dulu 20 tahun jadi guru di sini, jadi saya juga ingin meneruskan pekerjaan bapak, yaitu jadi guru di kampung sendiri. Walau selama ini honorer pun ya tak apa, yang penting anak-anak di kampung ini bisa terus sekolah,” ungkap Dedi.

Selama menjadi guru honorer di sekolah negeri, Dedi hanya mengantongi gaji Rp 12 ribu per hari, atau bila ditotal hanya Rp 300 ribu per bulan. Namun, gaji tersebut terkadang tak selalu ia terima per bulannya. Seringkali, Dedi menerima gajinya per tiga bulan sekali karena biaya operasional sekolah yang tidak turun.

Ruang kelas MI Malnu Cikarang yang sudah empat tahun terlantar tanpa perbaikan karena keterbatasan dana.

Ruang kelas MI Malnu Cikarang yang sudah empat tahun terlantar tanpa perbaikan karena keterbatasan dana. (ISTIMEWA/ACT)

Setiap harinya, Dedi mengajar di SDN Pasirlancar 2 sejak pukul 07.00 pagi hingga 13.00 siang. Di sela waktunya ini, terkadang ia juga merangkap mengajar di sekolah lain yang tak jauh dari SD.

Di sana, Dedi menerima upah Rp 5 ribu per jam ia mengajar. Walau gajinya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia mengaku tetap bersyukur. “Ibu, istri dan anak tahu pekerjaan dan gaji saya, tapi mereka menerima, bahkan sangat mendukung,” sebut Dedi.

Pada 25 November lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program “Sahabat Guru Indonesia” merayakan Hari Guru Nasional dan mengapresiasi para guru di Indonesia.

Direktur Program ACT Wahyu Novyan mengatakan, pemberian beaguru untuk guru prasejahtera merupakan implementasi program “Sahabat Guru Indonesia.” Melalui program ini, ACT mengajak masyarakat luas untuk ikut memberikan apresiasi terbaiknya bagi guru prasejahtera namun tetap memiliki prestasi yang membanggakan bagi sekolah dan muridnya.

“ACT sangat mengapresiasi kehadiran guru-guru berdedikasi tinggi di Indonesia. Mereka telah mengabdikan diri bagi pendidikan dan kemajuan zaman, meski dengan pendapatan yang rendah,” ungkap Wahyu.

Potret lain hadir dari MI Malnu Cikarang, Desa Pasirlancar, Kecamatan Sindangresmi, Pandeglang. Para guru umumnya berpenghasilan Rp 400 ribu per bulan. Penghasilan mereka diterima setiap enam bulan sekali.

Sajad sedang memberikan materi ke murid-muridnya.

Sajad sedang memberikan materi ke murid-muridnya. (ISTIMEWA/ACT)

Sajad Setiadi, 50, selaku kepala sekolah sekaligus guru MI Malnu Cikarang menjelaskan, di sekolahnya ada tujuh orang tenaga pengajar. Mereka semua merupakan warga sekitar sekolah. “Guru-guru di sini digaji 400 ribu rupiah, tapi harus per enam bulan karena biaya operasional sekolah baru cair di waktu itu,” jelas Sajad.

Semua guru yang mengajar di MI Malnu Cikarang merupakan perempuan. “Guru di sini perempuan semua, jadi sang suami yang bekerja utama di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tambah Sajad.

Sementara itu, sejak tahun 2015, empat ruang sekolah mengalami kerusakan. Gempa-gempa kecil yang sering terjadi dan angin puting beliung pada tahun itu menghancurkan ruang kelas. Tiang utama penyangga atap roboh dan merambat ke ruang lain yang bersebelahan.

Akibatnya, saat ini hanya dua ruang kelas yang dapat digunakan. Bahkan salah satu kelas kondisinya cukup memprihatinkan. Lantai telah banyak yang pecah dan berganti tanah, sedangkan meja dan bangkunya juga terbatas.

Tiap hari, kegiatan belajar kelas 1, 2 dan 3 digabung dalam satu ruangan. Pun dengan kelas 4, 5, dan 6 menggunakan satu ruang lain. Baris duduk jadi pemisah antarkelas. Tiga guru wali kelas pun tiap hari mengajar dalam satu ruangan.

Keterbatasan dana menjadi alasan tak kunjung direnovasinya ruang kelas MI Malnu Cikarang. Dana BOS tak sanggup menutupi mahalnya biaya pembangunan, bahkan untuk gaji guru pun masih dirasa kurang di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok. Sajad menyebut, biaya angkut material ke desanya cukup mahal karena medan jalan berbatu dan jauh dari pusat kota.

Kini, Sajad dan para guru hanya berharap dapat memperbaiki bangunan sekolah. Mereka ingin memberikan fasilitas pendidikan terbaik bagi siswa-siswinya. Murid di sekolah ini pun tak dipungut biaya pendidikan. Mereka belajar secara gratis. “Saya hanya ingin pendidikan anak-anak di desa saya terjamin,” harap Sajad.

ACT mengajak para dermawan memuliakan para guru Indonesia melalui gerakan “Sahabat Guru Indonesia.” Para dermawan dapat berdonasi untuk para penyampai ilmu ini hingga ke pelosok-pelosok Indonesia. Mari, tunjukkan kepedulianmu dengan berdonasi melalui indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia. (act/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia