Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya

Campursari di Kota Lama Sudah Menyedot Penikmat Setia

25 November 2019, 16: 37: 18 WIB | editor : Wijayanto

MENGHIBUR: Fadhilah dan Tri Agustin, dua sinden kelompok campursari Guyub Rukun meladeni request penonton Mami Kola, Sabtu (23/11).

MENGHIBUR: Fadhilah dan Tri Agustin, dua sinden kelompok campursari Guyub Rukun meladeni request penonton Mami Kola, Sabtu (23/11). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Malam minggu di Kawasan Kota Tua Surabaya Utara kembali ramai dengan adanya Mami Kola (Malam Minggu Kota Lama). Sebuah panggung hiburan musik ala jadul yang digelar di depan gerbang Kya Kya, gagasan Radar Surabaya.

Sama seperti lima minggu sebelumhya, Mami Kola tetap konsisten menyajikan musik-musik campursarian kepada masyarakat Surabaya. Memperkaya nuansa kota tua kawasan Surabaya Utara. Menghibur pengendara yang lalu lalang. Pejalan kaki yang menjajal nuansa kota lama Surabaya. Juga bapak becak dan penjaja ojek online yang tengah menunggu penumpang.

Mami Kola Sabtu (23/11) dimulai pukul 19.00. Dibuka dengan tembang campursari klasik Tombo Kangen. Dan berlanjut hingga pukul 21.30. Dengan sajian berbagai macam genre lagu.

Karena lokasi panggung Mami Kola berada tepat di tepi jalan halaman Radar Surabaya, pengunjung  bisa menikmati hiburan hingga seberang jalan. Duduk di emperan ruko, di atas becak dan motor.

Jarak yang terhalang kendaraan lalu lalang ini membuat request lagu dilakukan dengan teriak-teriak. "Mendem kangen, Mbak!" teriak seorang pengunjung di seberang jalan. Yang langsung diladeni oleh sinden.

Meski digelar dalam panggung sederhana, hiburan Mami Kola menjadi warna baru bagi hiburan di Kota Tua Surabaya. Jadi teman dengar bagi mereka yang masih bekerja hingga malam di sekitar Jembatan Merah Surabaya. Dan tentunya jadi penyemangat bagi pengunjung yang lalu lalang.

Karena dengan suara centilnya, dua sinden dari grup musik Guyub Rukun,  Fadhilah dan Tri Agustin selalu menyapa pengendara roda dua dan empat yang lalu lalang. Memberikan pesan selamat malam minggu. 

Masih berusia satu bulan, Mami Kola juga sudah punya penggemar setianya. Sekelompok bapak-bapak paruh baya yang selalu datang dan menyumbangkan suara emasnya dengan berduet dengan sinden. "Karena merupakan orang campursari juga, makanya saya senang kalau ada yang menghidupkan hiburan seperti ini," ujar Binarmo.

Binarmo juga memberikan masukan agar Mami Kola semakin dikenal warga. Yakni penerangan panggung yang dibuat lebih menonjol. Baik dari penerangan maupun tata panggung. Sehingga pengunjung lalu lalang bisa menyadari ada acara di halaman Radar Surabaya. "Coba libatkan anak-anak muda juga. Kan sekarang lagunya Didi Kempot lagi tren juga di kalangan anak muda," imbuhnya.

Manager Event Radar Surabaya Indra Wijayanto menuturkan, Mami Kola hadir untuk menambah alternatif wisata malam Minggu di Surabaya. Apalagi hiburan ini berada di kawasan kota lama Surabaya yang akan membawa kembali ke nuansa masa lalu zaman dahulu.

Menurutnya, Mami Kola hadir untuk menghidupkan kembali Kya Kya, yang puluhan tahun lalu pernah ramai dan jadi jujukan muda-mudi menghabiskan malam. "Kami ingin menambah referensi, juga mendorong pemerintah dalam sosialisasi kawasan wisata kota tua," katanya.

Indra menyampaikan, Mami Kola merupakan bentuk upaya Radar Surabaya mendukung pemerintah dalam program revitalisasi kota lama. Mami Kola didukung penuh oleh Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disparta) Kota Surabaya. (ism/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia