Senin, 27 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

UKM Hemat Biaya Pakai Energi Alternatif Gas Bumi

20 November 2019, 18: 33: 45 WIB | editor : Wijayanto

LEBIH MURAH: Gasifikasi Mini Batubara (GasMin) yang terpasang di sentra IKM telur asin Desa Kebonsari, Candi.

LEBIH MURAH: Gasifikasi Mini Batubara (GasMin) yang terpasang di sentra IKM telur asin Desa Kebonsari, Candi. (ISTIMEWA)

Share this      

SIDOARJO - Besarnya biaya yang dikeluarkan pada proses produksi membuat pengusaha putar otak. Salah satunya dengan mengganti bahan bakar yang lebih hemat dan minim risiko bahaya.

Seperti yang dipakai dua pebisnis kuliner di Kota Delta ini. Sejak November 2018 Qen-di Garden Resto beralih memakai Compressed Natural Gas (CNG). Penghematan pengeluaran biaya bahan bakar mencapai 70 persen.

Gas tersebut dilirkan dari sumber melalui pipa yang terhubung  ke dapur. Pemakaian dicatat dengan meteran yang terpasang. Pengeluaran biaya yang dibayarkan, tergantung pada pemakaian restoran.

Selama 14 jam non stop jam operasional setiap harinya, dalam kurun satu tahun belakangan ini, sama sekali tidak ada kendala pemakaian.

Manager operasional Qen-di Garden Resto Yuniarto Setiawan mengakui, sebelumnya biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar bisa mencapai Rp 17 juta per bulan. Semenjak beralih pengeluaran bahan bakar Qen-di Garden Resto hanya Rp 4 juta per bulan.

“Dengan penghematan itu kita bisa menahan harga jual makanan. Sebagian dialihkan untuk kesejahteraan karyawan,” ujarnya.

Selain CNG, pebisnis kuliner juga memanfaatkan Gasifikasi Mini Batubara (GasMin). Sulaiman, pemilik UD Adon Jaya penghasil telur asin di Desa Kebonsari, Candi sudah memanfaatkan energi ini.

Setelah menggunakan GasMin proses pemasakan telur asin menjadi lebih cepat satu jam dan lebih efisien. Biasanya, Sulaiman butuh waktu tiga hingga tiga setengah jam untuk mengoven 400 butir telur asin. Hanya menghabiskan lima kilogram batu bara.

Pengoperasian alat cukup mudah dan menghasilkan sumber panas yang besar yang dimanfaatkan untuk pengovenan telur asin.

Warga Jalan Bina RT 5 RW 1 ini memang baru sepuluh kali memakai GasMin untuk memproduksi telur asinnya.  Tidak hanya efisiensi waktu, penggunaan GasMin ternyata juga berpengaruh pada hasil produksi. “Putihnya telur bebek lebih cerah. Kalau yang sebelumnya agak mangkak,” jelasnya. (rpp/nis)

(sb/rpp/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia