Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya
GoFood Merchant Story: AYAM BAKAR PRIMARASA

Berawal dari Kantin Kampus, Kini Miliki Banyak Cabang

18 November 2019, 05: 30: 13 WIB | editor : Wijayanto

BERKEMBANG DENGAN GOBIZ: Edwin Sugiarto (kanan) menyerahkan paket menu pesanan pelanggan melalui aplikasi GoFood kepada driver GoRide.

BERKEMBANG DENGAN GOBIZ: Edwin Sugiarto (kanan) menyerahkan paket menu pesanan pelanggan melalui aplikasi GoFood kepada driver GoRide. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Ayam bakar menjadi salah satu makanan yang digemari oleh banyak orang karena kelezatannya. Tak heran jika banyak pengusaha yang bergelut dalam bisnis makanan yang satu ini. Salah satunya yang diacungi jempol adalah Edwin Sugiarto. 

Sebagai generasi kedua pemilik Ayam Bakar Primarasa, Edwin konsisten menjaga kualitas makanan dengan cara memasak sendiri bumbu ayam bakarnya. "Saya bikin sendiri, jadi nggak bergantung kemampuan koki. Senang saja ketika tamu makan makanan yang kita buat sampai habis. Bahkan mereka kembali lagi," ungkapnya.

Ayam Bakar Primarasa didirikan oleh orangtuanya, Ibu Santi, pada 1993. Berawal dari sebuah kantin di universitas di Surabaya timur, gerainya juga melayani katering untuk suplai makanan ke dokter dan perawat di salah satu rumah sakit. 

Namun pada 2001 saat kondisi krisis ekonomi (krismon), usaha ayam bakar yang sudah berkembang ini terpaksa mem-PHK beberapa karyawan. Kendati demikian, usaha ini tetap bertahan. Sentra kitchen di Jalan Kusuma Bangsa disulap menjadi rumah makan pertama. Kini Ayam Bakar Primarasa memiliki lima cabang di Surabaya.

Meski memiliki banyak cabang, Edwin selalu berusaha menjaga kualitas masing-masing cabang. "Saya berusaha membuat kesan pelanggan pada rumah makan kami sama di manapun tempatnya. Jadi nggak ada yang bilang kalau cabang ini lebih enak dari cabang yang lain, semuanya sama," tuturnya.

Bisnis kuliner memang sangat menjanjikan jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika sudah berhasil mengambil hati para pelanggan. "Banyak yang bilang kalau ke Surabaya nggak enak kalau nggak mampir Primarasa," imbuhnya. 

Di era digital seperti saat ini, Edwin pun mengikuti perkembangan teknologi dengan bergabung sebagai mitra GoFood. Manfaatnya pun sangat terasa. Menurut dia, penjualan melalui online mampu menyumbang hingga 20 persen terhadap total penjualan. 

Selain itu dengan hadirnya aplikasi GoBiz yang disediakan Gojek untuk mitra merchant-nya, sangat mempermudah dalam mengembangkan usahanya. Menurut Edwin, aplikasi ini memudahkan untuk memantau tingkat penjualan dan lain-lain. 

"Misalnya saat ada driver yang akan order, bahkan driver tersebut belum sampai rumah makan, saya sudah tahu orderannya. Sehingga saya bisa menyiapkan pesanan tersebut lebih cepat," ujarnya. 

Selain itu melalui aplikasi GoBiz, Edwin mengaku bisa mengubah sajian menu makanan yang ia jual di aplikasi GoFood. "Jadi customer bisa tahu kalau satu menu sedang ada atau tidak ada. Selain itu, ketika ada perubahan harga kita juga bisa ubah harganya sendiri," jelasnya. 

Sejak setahun lalu, Edwin juga bereksperimen dengan meluncurkan menu-menu baru yang ditawarkan melalui aplikasi ini untuk mengetahui pangsa pasarnya. "Dengan GoBiz kita bisa lebih mengatur sendiri. Bisa cek pasar, atau cek ombak istilahnya. Saya sering mencoba-coba menu untuk melihat respon masyarakat," tuturnya. 

Tak ketinggalan, Edwin pun memberi beberapa tips membangun sebuah usaha. Pertama, kerja harus sesuai passion. "Menurut saya, bekerja sesuai dengan minat atau passion akan membuat kita lebih enjoy menjalaninya," ujarnya. 

Kedua, usaha keras. Rupanya, Edwin memegang teguh pepatah tiada hasil yang mengkhianati usaha. "Kalau kita lebih bekerja keras, totalitas, maka hasilnya pasti akan lebih maksimal juga," imbuhnya. (cin/jay)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia