Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Anak Terlahir Aneh, Suami Minta Cerai

17 November 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Sebagai orang tua, sudah jadi kewajiban menerima kondisi anak apa adanya. Janganlah macam Donwori, 23. Tak terima anak terlahir aneh, ia minta cerai.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Dilihat dari gelagatnya, Karin sepertinya orang baru di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya. Langkahnya nampak ragu-ragu.  Ia mondar-mandir dengan mata beredar mengamati seisi ruang tunggu. Seperti sedang mencari sesuatu. Hingga ia duduk menghampiri penulis. "Mbak, kalau mau pakai jasa pengacara, gimana ya caranya?" tanyanya, pelan. Seperti orang berbisik.

Owalah. Dari tadi cari pengacara toh, batin penulis. Ia pun kemudian mulai curhat tanpa ditanya. Tentang maksud dan tujuan kedatangannya ke PA. Tentang pengacara yang ia cari jasanya. "Suami saya ngajak cerai, cuma gara-gara wajah anakku yang sedikit aneh," ujarnya mulai sendu.

Karin mengatakan, ia adalah pasangan yang baru menikah. Baru satu tahunan lah. Tepatnya enam bulan yang lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki. Yang dari fisik normal dan utuh. Hanya saja, wajahnya sedikit menyerupai tikus, entah seperti apa maksudnya. Dari diskripsi Karin, mata, hidung, dan alis anaknya turun. Dan bentuk tulang pipi yang juga tirus. 

Bagi Karin, seperti apa pun rupa anaknya, anak tetaplah anak. Buah hati yang wajib disayangi. Sayang, Donwori sebaliknya. Ia tidak terima dengan fisik anaknya sendiri. Dan dengan tega-teganya mengatakan jijik terhadap penampilan anaknya.

"Sejak lahir sampai setengah tahun, mana pernah ayahnya megang. Gak mau, ngeri jare," cerita Karin menirukan kata-kata Donwori yang setiap meluncur dari mulutnya, selalu mengiris hatinya. 

Saking tidak pede dengan fisik anaknya, tanpa diskusi Donwori mengisolasikan anaknya. Ia akan melarang keras Karin jalan-jalan ke luar rumah dengan anaknya. Pokoknya di rumah saja.

Jangan harap Karin akan upload-upload foto anak di sosmed layaknya mama muda. Tidak akan. Karena Donwori melarang. Seakan lupa kalau anak yang menurutnya menjijikkan itu adalah anaknya sendiri. Bahkan Donwori menganggap anaknya kutukan.

Donwori bahkan mengusulkan Karin untuk meninggalkan si buah hati di panti asuhan saja. Dan mengusulkan untuk buat lagi dengan kualitas yang lebih oke. 

Tentu, usulan itu tak Karin terima. Namun tanpa ia sangka, Donwori murka. Dan mengajak Karin cerai kalau ia menolak usulannya. "Mangkanya Mbak, aku pengen pengacara menasehati, Mas Wori. Katanya, kalau hanya konsultasi gak bayar," timpalnya lagi. 

Kedatangan Karin sendiri ke PA sudah didorong frustasi. Berkas perceraian sudah di tangan suami. Tinggal maju saja ke pengadilan. Segala nasehat dan wejangan keluarga, tak ia dengar. Apalagi mau minta nasehat ustaz. Di telinga Donwori, bablass angine. 

Kembali ke fisik sang anak. Sebenarnya dugaan Karin, ini tak lepas dari ulah Donwori sendiri. Karin pun menceritakan mitos yang ia yakini. Katanya, kalau seorang ayah membunuh binatang ketika si istri sedang hamil, maka karmanya akan kena ke anak.

Kuat dugaan Karin, Donwori pernah membunuh tikus semasa ia hamil. "Tapi, tak tanya gak ngaku. Malah ganti marah-marah nuduh saya melemparkan kesalahan," timpalnya makin sedih. 

Padahal, ia masih ingat, seingat-ingatnya, dulu saat kandungannya sudah hampir tujuh bulan, Donwori pernah nyampluk  tikus besar yang menyusup masuk ke kamar sampai mati. Yang ia yakini hingga kini, jadi penyebab keanehan wajah anaknya sendiri. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia