Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Lebih Murah, Teknologi Baru Deteksi Gangguan Saraf Penderita Parkinson

15 November 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

KERJASAMA: Dirut RSUD Dr. Soetomo Joni Wahyuadi (kiri) bersama Profesor Riyanarto Sarno, dan dr. M. Hamdan saat soft launching BAMAG di Medical Artifi

KERJASAMA: Dirut RSUD Dr. Soetomo Joni Wahyuadi (kiri) bersama Profesor Riyanarto Sarno, dan dr. M. Hamdan saat soft launching BAMAG di Medical Artificial Intelegence Center (MAIC) RSUD DR. Soetomo, Kamis( 14/11). (ISMAUL CHOIRIYAH/RADAR SURABAYA)

Share this      

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya memiliki teknologi baru di bidang bedah saraf. Namanya BAMAG (brain natomy morphology generator). Yang istimewa, alat itu ciptakan arek ITS.

ISMAUL CHOIRIYAH-Wartawan Radar Surabaya

BAMAG merupakan medical artificial intelegence ciptaan profesor ITS, Prof.  Riyanarto Sarno. Fungsinya untuk menganalisa letak saraf yang bermasalah pada pasien parkinson sebelum tindakan operasi bedah dilakukan. BAMAG menggabungkan MRI (magnetic resonance imaging), MRA (magnetic resonance angiography), dan CT (computerized tomography) Scan yang diwujudkan dalam gambar 3D, sehingga pengukuran letak kelainan dalam otak yang akan dioperasi lebih presisi. 

Direktur Utama RSUD Dr. Soetomo Joni Wahyuadi menyebutkan, operasi parkinson biasanya dilakukan dengan membuat lubang kecil di kepala untuk kemudian dimasukkan alat  atau istilah medisnya stereotaksis. Tantangan dalam melakukan operasi ini adalah menentukan bagian otak yang eror. Jika letak otak yang bermasalah bisa ditemukan dengan benar, maka operasi dapat berjalan dengan baik. Namun, jika letak yang dioperasi meleset sekian mili saja, maka bisa menimbulkan komplikasi. “Kemungkinan eror dari alat ini adalah 0,01 milimeter. Dengan angka sekecil ini, kemungkinan salah operasi dapat ditekan,” ungkap Joni. 

Ia menjelaskan, keberadaan alat ini sangat membantu dokter bedah saraf. Selain dari sisi akurasi, BAMAG juga mampu mempercepat waktu perencanaan. Tentunya dengan harga yang lebih terjangkau karena merupakan produk dalam negeri. “Aplikasi-aplikasi seperti ini sebenarnya sudah banyak di luar negeri. Namun, harganya sangat mahal. Dan tidak akan terjangkau oleh masyarakat kita. Kerjasama dengan Fakultas Teknologi Informasi ITS, tentu kita mendapat teknologi canggih dengan harga yang murah. Pasien BPJS pun bisa menggunakan,” paparnya dalam soft launching BAMAG di  Medical Artificial Intelegence Center (MAIC) RSUD Dr. Soetomo, Kamis( 14/11).

Joni mengungkapkan, penderita parkinson di Indonesia sangat banyak. Berdasarkan data, penderita parkinson jika dirata-rata sebanyak 300 orang per 1.000 populasi. Angka ini cenderung sangat banyak sehingga diperlukan inovasi dari medical artificial intelegent untuk efektifitas penanganan.Parkinson sendiri merupakan penyakit dalam saraf otak yang menyebabkan penderitanya mengalami gangguan mengatur gerakan tubuh, berbicara, menulis dan sebagainya. Gejala umumnya adalah adanya tremor pada bagian tangan maupun kaki.   “Kalau(teknologi) dari luar hanya menggabungkan antara MRI dengan CT Scan. Dengan buatan kita ini ditambahi dengan MRA karena kita tahu, lokasi-lokasi di otak memiliki banyak pembuluh darah. Kalau kita mengenai pembuluh darah, maka akan terjadi pendarahan yang menyebabkan komplikasi. Oleh karena ada tiga komponen sehingga tahu persis lesi di otak yeng menyebabkan tremor dan diperbaiki secara tepat,” lanjutnya. 

Prof. Riyanarto Serno menyampaikan, alat ini tidak hanya didesain untuk penderita parkinson saja. Namun, akan dikembangkan untuk penyakit saraf otak yang lain. Hadirnya penelitian ini berawal dari proyek yang ia ajukan kepada LPDP dengan dana Rp 11 miliar. Nantinya, hak paten alat ini akan diserahkan ke institusi. “Harapannya, semua rumah sakit di Indonesia memiiki alat ini, sehingga 75 ribu pasien parkinson yang tumbuh di Indonesia pertahun dapat tertangani utamanya oleh BPJS. Dengan teknologi lebih baik, kualitas hidup juga semakin baik,” paparnya. (*/opi)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia