Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Semua Rumah Sakit Wajib Terapkan Layanan Telemedicine

15 November 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur (dok)

Share this      

SURABAYA - Pemerintah Provinsi  (Pemprov) Jawa Timur  terus berinovasi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang Cepat, Efektif, Tanggap, Transparan, dan Responsive (CETTAR). Terbaru, seluruh rumah sakit (RS) di provinsi paling timur di Pula Jawa ini diharapkan segera menerapkan inovasi layanan telemedicine untuk mewujudkan Jawa Timur Cerdas dan Sehat.

Saat ini, inovasi layanan telemedicine sedang dikembangkan di dua RS di Jawa Timur. Yaitu RSUD Dr Soetomo sebagai RS pengampu penyelenggara  uji coba program telemedicine yang ditetapkan langsung oleh kementerian kesehatan (kemenkes). Selain itu, RSU Haji juga telah ditetapkan sebagai RS pengampu telemedicine tingkat regional.

Dipilihnya dua RS itu sebagai penyelenggara program pelayanan telemedicine berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor, HK : 01.07/MENKES/ 682/ 2019 pada Oktober lalu. Penetapan RSUD Dr Soetomo sebagai RS pengampu  telemedicine nasional tidak terlepas dari statusnya sebagai pusat rujukan nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Nomor HK.02.02/ MENKES/ 390/ 2014 tentang Pedoman Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional. "Ke depan, dengan tantangan di bidang layanan kesehatan, seperti masalah antrean dan tunggu operasi, maka kami akan menerapkan program pelayanan telemedicine di sel-sel rumah sakit yang ada di Jawa Timur," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kamis (14/11).

Pedoman pelayanan clinical guideline untuk telemedicine di seluruh RS di Jawa Timur akan disusun bersama. Sehingga metode pelayanan terhadap penyakit tertentu akan relatif sama di setiap RS yang ada di Jawa Timur. "Harapannya rumah sakit di Jawa Timur menjadi jejaring pelayanan tingkat lanjut yang terjaga mutunya. Rumah sakit dengan tipe A dapat membantu proktoring pada rumah sakit tipe A lain atau di bawahnya. Sistem ini sudah dilakukan di RSUD Dr Soetomo dengan RSAL untuk pasien bedah saraf dan terbukti bisa saling membantu dalam mengatasi antrian pasien," urai mantan menteri sosial itu.

Bahkan, lanjut Khofifah, Program Digipedis atau Digitalisasi Utilitas IGD dan Ruang Rawat Inap yang dilakukan di RSUD Dr Soetomo sejak 13 Juli 2019, sebagai salah satu program CETTAR 99 hari kerja, dinilai berhasil oleh Kementerian Kesehatan dalam memobilisasi tenaga perawat saat pasien melonjak di layanan IGD tanpa menambah jumlah tenaga perawat definitif. Keberhasilan itu membuat RSUD Dr Soetomo mendatapatkan award dalam Human Resources and Development Program  pada 25 Oktober 2019 lalu.

Khofifah menambahkan, kondisi geografis Provinsi Jawa Timur  yang sangat luas sering menjadi barrier tersendiri untuk memeratakan pelayanan kesehatan. Selain itu, ketidakmerataan fasilitas dan tenaga profesional kesehatan, juga menyebabkan variasi dalam status kesehatan mayarakat.

Revolusi teknologi inovatif yang dikenal dengan telemedicine mampu melakukan konsultasi jarak jauh terkait kondisi klinis, radiologi, elektrokardiogram (EKG), ultrasonography (USG). Serta telekonsultasi dimana konsultasi dilakukan jarak jauh antar sesama dokter terkait pengobatan pasien dianggap sebagai salah satu solusi mengatasi tantangan dunia kesehatan.

Dengan telemedicine maka insiden penyakit, profil kesehatan, sistem rujukan berjenjang dan terstruktur, dapat dilakukan dengan tepat dan cepat. Sehingga angka keparahan dan kematian dapat diturunkan dan dengan demikian harapan hidup dapat ditingkatkan. "Oleh karenanya diharapkan agar semua rumah sakit dan pelayanan kesehatan di Jawa Timur dapat segera  mengikuti program  Telemedicine Indonesia (Temenin), sehingga Nawa Bhakti Satya untuk Jatim  Cerdas dan Sehat dapat segera terwujud di Jawa Timur," pungkasnya. (mus/opi)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia