Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Potensi Menjanjikan, Developer Asing Agresif Garap Market Surabaya

13 November 2019, 17: 07: 29 WIB | editor : Wijayanto

POTENSIAL: CEO Propnext Indonesia Luckyanto (kanan) bersama Ketua Arebi Jatim Rudy Susanto saat melihat salah satu maket properti luar negeri saat pameran di Surabaya.

POTENSIAL: CEO Propnext Indonesia Luckyanto (kanan) bersama Ketua Arebi Jatim Rudy Susanto saat melihat salah satu maket properti luar negeri saat pameran di Surabaya. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Potensi market yang cukup besar membuat developer asing semakin agresif menggarap pasar Surabaya. Selain untuk kepentingan investasi, banyak investor Surabaya yang membeli properti di luar negeri untuk kepentingan pendidikan dan medical.

Menurut Luckyanto, CEO Propnext Indonesia, banyak developer asing, baik dari Asia, Australia, Eropa, dan Timur Tengah yang membidik investor asal Kota Pahlawan. Mereka menilai Surabaya memiliki banyak investor properti dan terus bertumbuh setiap tahunnya.

“Tahun lalu investor Surabaya yang membeli properti di luar negeri lewat kami sebesar Rp 180 miliar. Tahun ini hingga Oktober, sudah Rp 200 miliar. Sampai akhir tahun, kami harapkan Rp 300 miliar. Dimana 40 persennya dari Surabaya,” kata Luckyanto di Surabaya.

Diungkapkannya, data yang disampaikan itu baru dari Propnext Indonesia saja. Belum termasuk dari broker-broker properti lainnya. Kalau diakumulasi semuanya, Luckyanto memprediksi nilai investasinya bisa lebih dari Rp 1 triliun.

Menurut Lucky, banyak faktor yang mempengaruhi investor Indonesia, khususnya Surabaya, membeli properti di luar negeri. Selain untuk keperluan anaknya yang sedang belajar di luar negeri, juga karena murni investasi dan kepentingan kesehatan.

“Properti Australia yang paling banyak dicari. Selain jaraknya dekat, juga banyak anak Surabaya yang belajar di sana. Setelah itu disusul Singapura, Malaysia, Inggris (London), dan Dubai. Harga properti yang paling banyak dicari berkisar antara Rp 3-10 miliar per unit,” urai Lucky.

Selain itu, pihaknya juga banyak mendatangkan pembeli asing ke Indonesia, terutama untuk proyek properti yang ada di Bali. Sebab, Pulau Seribu Pura merupakan international destination sehingga banyak investor asing yang tertarik membeli disana.

Rudy Susanto, ketua Arebi (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia) Jatim menambahkan, secondary market masih cukup bagus. Sebab itu, dia mendorong agar para broker terus menggali market dengan berbagai event. Sebab, banyak customer yang bisa digarap ketika event digelar baik sendiri atau bersama-sama. (fix/opi) 

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia