Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

PWNU Jatim Perbolehkan Penyampaikan Salam Lintas Agama

13 November 2019, 16: 27: 59 WIB | editor : Wijayanto

BERI PERNYATAAN: Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar (tiga dari kanan), Rais Syuriah KH Anwar Manshur (tengah), Wakil Syuriah KH Anwar Iskandar (tiga dari kiri) dan Katib Syuriah KH Syafruddin Syarif saat memberikan pernyataan pers.

BERI PERNYATAAN: Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar (tiga dari kanan), Rais Syuriah KH Anwar Manshur (tengah), Wakil Syuriah KH Anwar Iskandar (tiga dari kiri) dan Katib Syuriah KH Syafruddin Syarif saat memberikan pernyataan pers. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim memperbolehkan salam semua agama untuk terus merajut perdamaian di Indonesia. Keputusan itu diambil setelah mereka menyelesaikan Bahtsul Masail terkait polemik salam semua agama.

Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar menuturkan, sebenarnya sejak dulu ketika zaman nabi sudah banyak contoh terkait salam bagi semua agama. Dahulu, Ketika Nabi Muhammad bertemu orang lumpuh dan ada banyak orang yang beragama lain, maka salam itu tetap diberikan.

“Jadi sudah ada contoh yang sebenarnya menjadi panutan. Makanya hasil Bahtsul Masail tidak ada masalah untuk terus menjaga perdamaian,” kata Kyai Marzuki di kantor PWNU Jatim.

 Katib Syuriah PWNU Jatim Syafruddin Syarif menjelaskan, hasil dari Bahtsul Masail sudah menjelaskan secara terperinci. Salah satu pertimbangannhya adalah Islam  sebagai agama kerahmatan. Sehingga pesan kedamaian dalam mewujudkan salam secara verbal harus dilakukan.

“Pengucapan salam sejak Nabi Adam sudah dilakukan. Saat ini, ketika berbagai polemik pun muncul, termasuk menjawab dalam keberagaman,” ucapnya.

Ia melanjutkan, bagi pejabat muslim dianjurkan ucapkan salam. Baru kemudian  diikuti ucapan salam nasional seperti ucapan selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

“Demi menghindari perpecahan, maka boleh mengucapkan salam lintas agama. Di dalam penjelasan kemaslahatan, maka untuk menjaga perdamaian itu salam lintas agama diperbolehkan,” ungkapnya.

Bahkan, dari pendapat ulama terdahulu, bagi pejabat hendaknya diperbolehkan  ucapkan salam agama lain kalau diperlukan untuk menjaga perdamaian dan kerukunan. “Hasil Bahtsul Masail ini keluar setelah adanya keresahan di masyarakat. makanya kami memberikan hasil Bahtsul Masail terkait dengan ucapan salam lintas agama,” imbuhnya.

Dikonfirmasi mengenai imbauan MUI soal salam lintas agama, ia menyatakan PWNU tidak dalam kapasitas mengkonter kebijakan atau pendapat MUI. Sehingga, ia memastikan jika dalam kasus ini tidak melarang ataupun menyuruh.

"Kami tidak dalam rangka mengkonter pendapat MUI. Namun dalam kasus ini kita tidak melarang atau pun menyuruh. Jadi kalau ada maslahat kemudian ada hajat untuk mengucapkan salam lintas agama, kami tidak masalah. Tapi kalau tidak diperlukan, sebaiknya tidak dilakukan," tegasnya.

Sebelumnya, MUI Jatim menerbitkan imbauan agar umat Islam dan para pemangku kebijakan atau pejabat untuk menghindari pengucapan salam dari agama lain saat membuka acara resmi.

Imbauan tersebut termaktub dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin.

Dalam surat itu, MUI Jatim menyatakan bahwa mengucapkan salam semua agama merupakan sesuatu yang bidah, mengandung nilai subhat, dan patut dihindari oleh umat Islam.

KH Abdusshomad Buchori membenarkan bahwa surat itu memang resmi dikeluarkan pihaknya. Imbauan tersebut merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI di Nusa Tenggara Barat, 11-13 Oktober 2019.(rmt/rak)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia