Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Jadi Raja Utang, Perhiasan Warisan pun Dikorbankan

13 November 2019, 13: 58: 37 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Tak bisa dipungkiri, praktik gali lubang tutup lubang nyatanya masih digemari. Ngutang jadi cara kilat dapat uang. Urusan bayar, pikir mburi.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin, 43, melambaikan tangan ke kamera tanda menyerah. Ia menggugat cerai suaminya,  Donwori, 45, yang sudah kadung bangkrut gara-gara tergiur utangan di awal.

Pekerjaan Donwori hanyalah tengkulak ayam potong. Namun setiap bulannya, ada saja yang ia datangkan ke rumah. Mulai dari mobil, TV model paling tipis, motor, AC dan perkakas lain. Selain itu, Donwori juga punya hobi menghambur-hamburkan uang. Wastafel masih bagus, dibongkar. Pengen ganti gaya lagi. Keramik masih baru, diganti yang paling baru. Belum lagi hobinya nambah-nambah lantai rumah. 

Semua ini bukan karena penghasilan Donwori turah-turah. Melainkan gaya hidupnya yang terlalu hedon. Dan selalu ingin terlihat sukses di mata tetangga-tetangganya. Padahal, dalamnya bobrok.

Kebiasaan Donwori ini sebenarnya baru ada sejak ia masuk usia 40-an. Karin mengakui, di usia 30-an, Donwori masih susah payah bekerja. Bahkan rumah pun masih ngontrak. Baru menginjak kepala empat, bisnisnya mulai tercerahkan. Lancar maksudnya. Dari sinilah, Donwori mulai tergoda harta dunia.

Dimulai dari membeli rumah ukuran pas untuk ia dan keempat anaknya. Kala itu Donwori membeli rumah yang sudah jadi, sehingga tinggal menempati. Tapi, Donwori umek terus mikir renovasi.

Karin mengatakan, hal ini karena suaminya tergoda pinjaman murah rentenir. Juga kemudahan meminjam uang di bank. Ditotal bersama dengan rentenir, Donwori sudah punya enam sumber pinjaman yang masih berjalan.

"Dari dulu sing tak khuwatirkan mung siji, dek e gak iso nglunasi tepat waktu, terus barang-barang disita kabeh," ujar Karin di kantor pengacara samping Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan lalu.

Lhandilalah benar amit-amit dugaannya terbukti. Donwori jatuh sakit. Ia jantungan. Praktis, cicilan utangnya mandek. Sementara Karin masih susah payah mengambil alih bisnisnya. Bersamaan dengat itu, satu demi satu dept collector dating silih berganti.

Di awal, barang paling kelihatan, satu unit mobil tersita. Menyusul motor yang biasa dipakai sekolah anak pun ikut diambil. Lalu home theatre, TV, kulkas, mesin cuci, semua ikut diambil oleh mereka. Namun saking banyaknya sumber hutang, barang-barang itu belum cukup jadi tebusan.

"Saiki isi rumahku kosong mlompong. Sampek lampu plapon, hiasan keramik kabeh disita. Saiki tamu lek moro kudu klesetan. Cuma tak gelar karpet. Kursi ae gak nduwe," lanjut Karin dengan mimik muka kesal. 

Kebangkrutan Donwori mau tak mau membuat Karin kesal. Ia sebenarnya sudah sempat berpikir puluhan kali untuk bercerai. Ia malu dengan tetangga dan sanak saudara. Juga kesal dengan suaminya yang hasrat hedonnya gak kenek direm. Namun ia masih punya hati nurani. Apalagi suaminya sakit. 

Namun satu tindakan sembrono Donwori membuat Karin tak tahan lagi. Bisa-bisanya, diam-diam Donwori menjual satu set perhiasan hadiah pernikahan eyangnya sendiri. Hanya untuk membeli kursi.

"Tak amuk entek-entekan bari ngunu. Heran, tuwek tapi uteke sampek dengkul tok. Iku ngono barang turun temurun kudu diramut. Malah didol. Lambene enteng sisan, ngomong mbahe sengojo ngasih perhiasan cek suatu saat iso didol putune, gawe nylametno rai. Oh.. sempel tenan," pungkas Karin, kesal. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia