Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Veteran Pejuang Sidoarjo, Puspo Pinardi (2)

Mencekam, Satu Tank Tenggelam, Satu Kawan Hilang Dimakan Ikan

13 November 2019, 05: 27: 38 WIB | editor : Wijayanto

TERNGIANG: Puspo Pinardi, salah satu prajurit yang pernah hampir tenggelam saat berjuang.

TERNGIANG: Puspo Pinardi, salah satu prajurit yang pernah hampir tenggelam saat berjuang. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

Membalas kekejaman pemerintah Singapura terhadap prajurit KKO (Marinir) Usman-Harun yang dihukum gantung pada Oktober 1968 rupanya tak mudah. Upaya perlawanan yang dilakukan TNI sempat menemui hambatan. Sebab tank yang dinaiki Puspo Pinardi bersama prajurit lain lebih dahulu tenggelam.

LUKMAN AL FARISI-Wartawan Radar Sidoarjo

Saat itu, jam menunjukkan sekitar pukul 19.00 malam. Seluruh prajurit bersiap melakukan perlawanan. Rencanapun telah disusun rapi. Sejumlah senjata juga telah disiapkan.

Satu per satu prajurit mulai menaiki tank amfibi, sebuah kendaraan perang spesialis dalam air. Semangat pun samakin berkobar.

Upaya penembakan di Pulau Momoi pun disiagakan. Tiba-tiba suasana mencekam terjadi. Alih-alih menembak, tank yang Puspo Pinardi naiki bersama prajurit lain perlahan tenggelam.

Entah apa sebabnya, perlahan namun pasti, seluruh bodi tank mulai tertutup dengan air laut.

“Saat itu banyak yang langsung melompat ke dalam air,” kata Puspo yang terlihat sedikit mengeluarkan air mata.

Seingatnya, upaya untuk meminta bantuan sempat dilakukan. Sejumlah prajurit menembakkan cahaya ke langit. Tujuannya meminta bala bantuan.

Namun apa daya, tenggelam tak dapat dihindari. Puspo sempat mencoba berenang hingga ke tepian. Sejumlah prajurit nampak melakukan hal yang sama.

Tak lama, bantuan datang. Salah satunya bala bantuan dari Mayor Rabain. Hampir seluruh prajurit selamat. Sayangnya, satu kawannya hilang entah kemana. Semua prajurit mulai cemas.

Makin malam, satu prajurit itu pun masih belum juga diketahui jejaknya. Strategi itu seakan runtuh dimakan dinginnya malam.

“Dua malam kemudian baru ditemukan, badannya sudah mulai dimakan ikan,” katanya sembari mengusap air mata.

Peristiwa itu menjadi salah satu peristiwa yang masih terus diingatnya. Kendati upaya melawan armada tujuh yang membentengi Singapura gagal, namun semangat juangnya nampak masih terlihat jelas di kedua matanya.

Baginya, perjuangan harus tetap terus berkobar, walau perhatian tak kunjung datang. “Saya tidak butuh belas kasihan pemerintah, tapi rawatlah Indonesia,” katanya diiringi lagu Gugur Bunga yang dinyanyikan istrinya, Nur Hayati. (far/nis/habis)

(sb/far/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia