Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Veteran Pejuang Sidoarjo, Puspo Pinardi (1)

Jiwa Patriotisme Tumbuh Lihat Ayah Hampir Mati Ditembak Mati Penjajah

13 November 2019, 05: 18: 23 WIB | editor : Wijayanto

SEPUH: Puspo Pinardi, salah satu prajurit yang pernah hampir tenggelam saat berjuang.

SEPUH: Puspo Pinardi, salah satu prajurit yang pernah hampir tenggelam saat berjuang. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

Pernah melihat orang tua dikejar penjajah bersenjata lengkap hingga ke tengah sawah, membuat jiwa patriotisme Puspo Pinardi tumbuh. Bahkan keinginannya untuk ikut serta berperang melawan penjajah semakin membara saat pria yang kini berumur 77 tahun itu mulai beranjak dewasa.

LUKMAN AL FARISI-Wartawan Radar Sidoarjo

Puspo Pinardi ingat betul bagaimana orang tuanya lari menuju area persawahan. Saat itu, sang ayah bersembunyi di antara tumbuhan padi yang tengah tumbuh tak terlalu besar.

Sayangnya, tumbuhan padi itu tak cukup untuk menutupi seluruh badan ayahnya. Punggungnya terlihat, bersama pucuk senjata yang juga mengarah pada ayahnya.

“Mau ditembak sama penjajah, tapi salah satunya ada yang menepis senjata yang tengah mengarah ke kepala ayahku,” katanya sembari melihat langit.

Peristiwa itu hingga saat ini masih terngiang jelas. Saat itu, dia masih anak-anak. Kondisi yang mencekam itu, hampir setiap hari dia rasakan. Terlebih saat sang ayah diborgol dibawa penjajah kemudian diinterograsi. “Ayah saya hanya pakai celana pendek hitam dan dikira tentara,” paparnya.

Suasana yang mencekam itu terus membuat hati Puspo Pinardi berkobar, seakan ingin membalas kekejaman penjajah. Beruntungnya, saat menginjak umur 17 tahun, dia direkrut menjadi teknisi kendaraan perang seperti tank. Keahliannya terhadap teknologi rupanya mendapat apresiasi.

Dari teknisi tank amfibi buatan Rusia itu dia kemudian diangkat menjadi prajurit. Puspo sempat dikirim ke kawasan perbatasan Indonesia, antara Batam dan Singapura. Dia menyebutnya Brigade II.

Di sana, dia ditugaskan untuk menghadapi armada tujuh yang membentengi Singapura. “Waktu itu kita diminta untuk unjuk gigi, agar penjajah ciut,” katanya.

Tujuannya sederhana, ingin membalas kekejaman terhadap Usman-Harun yang dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968.

Sayangnya, saat mencoba melakukan upaya penembakan di Pulau Momoi, tank yang dia naiki tenggelam. Satu kawannya tewas dan ditemukan dua malam kemudian.

“Saya ditolong Tuhan, saya bisa berenang hingga ke tepian,” paparnya.  (bersambung/nis)

(sb/far/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia