Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Pentingnya Edukasi Seks ABK untuk Cegah Pelecehan

13 November 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Pentingnya Edukasi Seks ABK untuk Cegah Pelecehan

Pentingnya Edukasi Seks ABK untuk Cegah Pelecehan (ilustrasi)

Share this      

SURABAYA - Pelecehan seksual, khususnya yang melibatkan individuanak berkebutuhan khusus (ABK) kerap masih terjadi di masyarakat. Bahkan tak jarang korban atau pelakunya adalah mereka yang masih berada pada circle lingkungan sama. 

Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 yang menyebutkan bahwa jumlah ABK di Indonesia mencapai 1,6 juta anak, hanya 18 persen di antaranya yang menerima pendidikan inklusi. Baik dari sekolah luar biasa (SLB) atau sekolah biasa pelaksana pendidikan inklusi. “Oleh karena itu peran orang tua sebagai tempat berlindung harus mulai dibangun sejak dini. Apalagi terkait edukasi seks. Dalam artian hal tersebut bakal lebih diselami saat individu special needs telah paham apa saja bagian-bagian tubuh beserta fungsinya,” jelasnya praktisi anak berkebutuhan khusus (ABK) Riska Timothy, Selasa (12/11).

Sehingga, meski tidak mendapatkan pendidikan di sekolah, namun mereka masih dapat mempelajarinya dari orang tua. Lebih lanjut Riska mengatakan, untuk mencegah individu special needs mengalami pelecehan seksual, baik sebagai pelaku atau korban, orang tua harus konsisten mengedukasi anak secara terus menerus. 

Bisa dalam bentuk visual maupun memanfaatkan kelebihan kinestetik yang mereka punya. Pasalnya, dari berbagai jenis special needs, masing-masing memiliki cara sendiri. Misalnya saja, anak dengan cerebral palsy dan autisme, yang dalam kasus ini sudah dilecehkan tentu akan berbeda penanggulangannya. Meski sama-sama takut, anak cerebral palsy lebih bisa menceritakan kejadiannya. “Kalau autisme, kita harus memancingnya terlebih dahulu dengan hal-hal di luar kejadian. Kita tahu, individu special needs sangat rentan terkena pelecehan seksual karena mereka dianggap sulit untuk melakukan perlawanan dan berkomunikasi,” ungkap Riska yang juga salah satu terapis di rumah terapi ABK ini.

Selain mengedukasi dengan beragam visual terkait hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh disentuh, Riska juga memiliki teknik pencegahan bagi orang dewasa untuk menghindarkan individu special needs dari pelecehan seksual. Di antaranya tidak boleh menyentuh tubuh seorang anak yang tertutup pakaian dalam, memangku anak atau memeluk anak dari depan, berada dalam satu ruangan kecuali ada cctv, mengambil foto yang menjurus ke hal-hal seksual dan mengunggah ke media sosial. Sementara itu Ketua Forum Komunikasi Orangtua Anak Spesial Indonesia (Forkasi) Chapter Surabaya Rosita Simin mengatakan, korban-korban pelecehan anak terutama individu special needs makin bertambah banyak tiap tahunnya. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan beragam upaya untuk menekannya. Salah satunya melalui edukasi terhadap orangtua dengan menggunakan visual abstrak dalam bentuk simbol gambar, tulisan, foto. “Anak-anak ini sebenarnya bisa membaca, namun kurang bisa memahami, makanya melalui visual abstrak harapannya mereka dapat lebih paham. Dan tentunya pengajaran seperti ini harus konsisten, diulang terus menerus agar mereka paham,” pungkasnya. (ism/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia