Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Belum Siap Jadi Bapak, Uang Habis Beli Gundam, Anak Kembar Dianggurin

13 November 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Anak-anak sendiri, bikinnya juga gak patungan dengan yang lain. Namun Donwori, 24, memperlakukan anak kembarnya sudah macam anak tiri saja. Juaaaahat pol. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Yah meskipun misuh sudah menjadi budayanya orang Surabaya, misuhi anak sendiri rasanya tetap kurang pantes. Apalagi, yang dipisuhi anak usia playgroup yang masih putih bersih pikirannya. 

Tapi, Donwori adalah raja tega. Lima menit saja Karin, 24, menitipkan anak ke bapaknya, mereka sudah paduan suara menangis. "Yoopo gak nangis Mbak. Lambene ayahe rusuh. Umek sitik wes metu kabeh kewan nok KBS," curhat Karin di kantor pengacara, dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya.

Donwori agaknya juga perlu disekolahkan parenting. Pasalnya, tidak hanya mulutnya saja yang rusuh. Dengan anak usia balita begitu, ia sudah main pukul saja. Tak terhitung sudah berapa banyak bekas luka biru-biru yang ada di tubuh anak kembarnya, karena kelakuan bapaknya sendiri.

"Jenenge anak lanang, loro sisan. Nakal yo mesti. Tapi ayahe ngunu gak cerdas, gak tlaten tur gak pinter. Gak isok ngemong arek yoopo carane cek manut opo jare," keluh Karin lagi. 

Bahkan, perlakuan Donwori juga sempat menyisakan trauma ke anak-anaknya. Pernah, dua anaknya ini menangis sampai hampir pingsan, lantaran dicancang ayahnya di dipan kamar tidur selama 30 menit. Penyebabnya, Donwori tak mampu melerai dua anaknya yang tengah bertengkar. Sungguh, Donwori perlu ambil kelas parenting 10 SKS. 

Atas perlakuan jahat yang kerap dilakukan Donwori, dua anak kembarnya tak ada yang dekat kepada ayahnya. Jangankan dekat, mereka pasti cari-cari alasan agar tidak dijaga oleh ayahnya. Bahkan, anak pertamanya sampai bicara blak-blakan kalau ia membenci bapaknya. 

Kalau Karin menyimpulkan, sepertinya Donwori belum siap menjadi ayah. Pasalnya, Donwori bisa lho dengan santainya hang out sendirian di akhir pekan. Melakukan hobinya yang seabrek. Ya nonton, ya badminton. Nanti sorean dikit, lanjut nongkrong. Ia baru pulang kalau petang. Anak dan istri ke mana? Ya ditinggal di rumah.

Jangan harap Donwori akan membawa serta mereka. Wong saat diprotes Karin saja jawabannya selalu begini, "Ancene kewajibane bojo ngopeni anak. Resik-sesik omah. Aku sing kerjo Senin sampe Jumat perlu waktu gawe awakku dhewe."

Kalimat ini sudah puluhan kali dilontarkan Donwori. Seakan ia lupa ingatan kalau selain mengurus rumah, Karin juga bekerja. 

Parahnya lagi, praktik korupsi juga Donwori lakukan dalam rumah tangganya. Karin menyebut, keluarga Donwori memang berada. Sudah hampir satu tahun ini, dua anak kembarnya ini dapat support jatah bulanan dari mbahnya.

Sayangnya, uang itu tak pernah sampai pada anak-anaknya. Karena disunat dan dikorupsi oleh bapaknya sendiri. "Ealah.. Lha kok tibake disinggetne bapake dhewe gawe njajan. Lagek iki ae pas aku wis ngerti, areke gak wani nyinget-nyingetne," bongkar Karin. 

Yang membuat Karin murka, sebagian besar gaji yang diterima Donwori habis untuk hobinya. Ya untuk koleksi gundam, misalnya. Mending kalau lewat hobinya ini bisa mengakrabkan bapak dan anak laki-lakinya.

Tapi, jangan harap itu terjadi. Karena Donwori tak akan suka mainan kesukaannya disentuh orang lain. Ia bisa mengurung diri di kamar merakit gundam, agar tidak diganggu anak-anak.

Belum lagi untuk hobi lain. Semisal otak atik motor, olahraga hingga hobi hedon ngemalnya yang menyita setengah lebih pendapatan bulannya. 

Karena tak tahan lagi, Karin bulat mantab meninggalkan suami yang blas tak dewasa ini. "Selama ini ya, percaya gak percaya, gaji saya yang habis buat yang ngopeni anak-anak. Sumbangane areke cuma bisa buat bayar token listrik aja, Mbak," pungkasnya kesal. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia