Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Terbukti Rekayasa Bangunan, Kontraktor dan Mandor SDN Gentong Ditahan

12 November 2019, 16: 58: 59 WIB | editor : Wijayanto

TERSANGKA: Dedi Seto bagian kontraktor dan Sutaji selaku mandor pembangunan SDN Gentong, Pasuruan, yang ambruk dan menewaskan murid dan guru.

TERSANGKA: Dedi Seto bagian kontraktor dan Sutaji selaku mandor pembangunan SDN Gentong, Pasuruan, yang ambruk dan menewaskan murid dan guru. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SUARABAYA - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur menahan dua tersangka yang bertanggungjawab atas ambruknya atap SDN Gentong, Gadingrejo Pasuruan. Tersangka adalah Dedi Seto bagian kontraktor dan Sutaji selaku mandor.

Mereka merupakan bagian pihak pelaksana renovasi sekolah yang dikerjakan tahun 2012 lalu. Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Gideon Arif Setyawan mengatakan keduanya ditetapkan tersangka atas kelalaiannya atau kealpaan yang menyebabkan atap ambruk dan merenggut dua korban jiwa.

“Mereka ditetapkan tersangka atas kelalaiannya dan merekayasa konstruksi bangunan. Mereka ditahan mulai minggu kemarin,” ujar Gideon di Mapolda Jatim.

Gideon menjelaskan, dari hasil uji laboratorium forensik (labfor) terdapat beberapa ketidaklaziman dalam konstruksi renovasi pembangunan gedung sekolah.

“Harusnya kolom ini, diisi empat besi, tapi hanya tiga,” terangnya sambil menunjukkan beton yang diduga konstruksinya direkayasa pelaku.

Diterangkan Gideon, bukan hanya pengurangan jumlah rangka besi, pelaku juga menggunakan besi berukuruan 8, 5 milimeter. Harusnya untuk bangunan tersebut, pelaksana menggunakan besi berukuran 12 mm.

“Terkait bahan baku pasir, pelaku menggunakan pasir biasa. Pasir yang bagus harusnya adalah pasir Lumajang,” sebutnya.

Kemudian, lanjut Gideon, pelaku juga menggunakan besi galvalum baja ringan untuk digunakan sebagai reng/usuk. Padahal besi itu tidak memiliki daya yang kuat.

“Galvalum rangkanya baja ringan sebagai reng atau tempatnya genteng. Breaking poinnya itu ketarik, kemudian tidak kuat jebol,” beber perwira menengah dengan tiga melati di pundaknya itu.

Gideon menuturkan, Dedi hanyalah lulusan SMA dan tidak memiliki kecakapan khusus. Sementara Sutaji juga sama. Dia merupakan lulusan SMP. Meski demikian keduanya sudah bekerja sama menggarap proyek sejak 2004 lalu.

Sekadar diketahui atap gedung SDN Gentong ambruk saat di dalam kelas sedang berlangsung pembelajaran Selasa (5/11) lalu. Akibatnya, seorang siswa bernama Irza Almira, 8, dan seorang guru Sevina Arsy Putri Wijaya, 19, tewas. Sementara sebanyak 11 orang siswa mengalami luka-luka. (rus/rud)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia