Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Malunya, Kena Body Shaming Oleh Suami Sendiri

12 November 2019, 05: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Sebagai orang terdekat, sudah sepatutnya suami mendukung istri. Jadi  yang terdepan untuk membela ketika istri dijahati, dihina, dilecehkan, direndahkan. Jangan macam Donwori, 34. Yang malah jadi pem-bully utama istri sendiri.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin boleh dibilang perempuan yang penampilannya paling mencuri perhatian di antara jajaran perempuan yang sedang berada di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, sepekan lalu. Jika dinilai dari ujung kaki dan ujung kepala, Karin dapat poin 9,5.

Badannya molek bak gitar spanyol. Kemolekan tubuhnya makin terpampang nyata karena dibalut kaus hitam ngapret alias fit body dan celana jeans biru. 

Rambutnya yang dicat semu merah ia biarkan tergerai. Saling adu perhatian dengan kalung emas yang menjuntai di lehernya. Karin yang sudah cukup tinggi terlihat makin menjulang dengan hak berwarna krem. Di ruang tunggu yang notabene tertutup atap itu, Karin gaya-gayaan pakai kacamata anti silau. Entah apa motivasinya.

Sekilas, ia mungkin terlihat sebagai perempuan sok kecakepan. Namun rupanya, ia punya alasan tersendiri mengapa dandan maksimal. Alasannya tak lain adalah untuk pamer kepada Donwori yang sebentar lagi bakalan jadi mantan suaminya. “Aku pengen menunjukkan kalau aku juga bisa cantik. Yah setidaknya cek ada sedikit menyesal sudah menyia-nyiakan saya,” ujar Karin kala itu.

Karin mengaku masih menyimpan sakit hati atas perilaku Donwori selama tinggal bersama. Karena bukannya mendukung, Donwori menjadi orang pertama yang mem-bully fisik Karin. Yang boleh dikatakan overweight atau gembrot. “ Bobotku waktu itu hampir 80 kilo. Penyebabe ngurus krucil dua. Nyuapin mereka makan. Kalau gak habis tak habisno, terus sejak itu keterusan doyan makan,” curhatnya.

Kesibukan mengurus anak membuat Karin tak sempat lagi ikut kelas zumba seperti dulu-dulu. Walhasil, badannya kian bengkak. Karin juga semakin tak selera merawat wajahnya. Yang penting anak bisa makan, mandi, dan tidur sesuai jadwalnya, ia sudah senang.

Sayangnya, perubahan fisik Karin mengganggu Donwori. Ia tidak terima melihat Karin yang dulunya seksi jadi gembrot tak terurus. Ia mungkin ingin memotivasi Karin agar kembali cantik, hanya saja pendekatannya salah. “Oalah Mbak.. , piye jal sampeyan bayangno. Diwara sapi mbek bojo dhewe iku gawe loro ati rasane,” keluh Karin.

Perempuan beralis lurus ini menyampaikan, tak jarang, Donwori melontarkan omongan yang menyakiti Karin. Misal mengatakan kaki Karin yang terlalu tebal hingga kalau nyaduk pencuri sekali saja bisa pingsan. Atau mengatakan punggung Karin terlalu lebar dan punya punuk (dipikir Karin unta kali), sehingga bisa ngangkat galon sendiri tanpa bantuan.

Donwori juga tak segan mengatakan wajah Karin lebar seperti tefelon dan berminyak, sampai-sampai telur yang diletakkan di wajah Karin yang pun bisa matang tanpa harus dimasak. Cukup berjemur saja di bawah sinar matahari. Kata-kata Donwori ini, sengaja tidak sengaja telah menyakiti Karin.

Belum lagi, tanpa henti-hentinya Donwori membandingkan Karin dengan istri tetangga yang tetap seksi meskipun banyak anak. “ Yo pantes ae, Rek. Kunu duwe pembantu, sing ngramut anak ono dewe. Lha kene opo-opo tak candak dewe. Ngono gak sadar opo yo, sing disawang rupane ae,” ujar Karin kesal.

Dari semua body shamming yang dilontarkan Donwori, ada satu hal yang membuat Karin sakit hati. Yakni kata-kata olokan itu dijadikan bahan bercandaan dengan teman-temannya. Ia kerap mengatakan dengan santainya, harus kerja lebih keras gara-gara jatah makan harus lebih banyak, demi mulut Karin yang makan banyak.

Atau guyon mengatakan kalau melihat Karin sudah macam melihat lemak hewan berjalan. “Dadi bojo gak isok nyukupi ae kakean cangkem. Wes iki tak buktikne, aku isok ayu, isok seksi. Tapi sorry ae, saiki standarku wes gak koen maneh,” pungkasnya, yang sambil mengurus sidang cerai sekaligus berusaha diet mati-matian. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia