Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Harga Hanya Rp 180 per Kg, Petani Garam Mengadu ke Dewan

07 November 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

HARGA ANJLOK: Petani garam di kawasan tambak Benowo.

HARGA ANJLOK: Petani garam di kawasan tambak Benowo. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Puluhan orang dari Forum Petani Garam Madura mendatangi Gedung DPRD Jawa Timur. Mereka mengeluh hingga saat ini harga garam menurun drastis pada kisaran Rp 180 per kilogram.  Angka itu adalah yang terendah sejak beberapa tahun yang lalu.

"Harga terendah Sekarang Rp 275 di gudang perusahaan, kalau di petani dikurangi Rp 90 jadi sekitar Rp 185. Dan ini terendah sepanjang sejarah sejak beberapa tahun lalu,” kata ketua Forum Petani Garam Madura, Saiful Rahman

Saiful mengatakan, anjloknya harga garam itu membuat petani di Madura terancam gulung tikar. Bahkan, banyak yang sudah berganti profesi karena memang biaya operasional untuk mengolah lebih besar dari harga di pasaran.

“Kami bersama dengan petani lain sudah berulangkali mendatangi para pengepul. Tetapi, garam dari petani itu tidak terserap dengan berbagai alasan. Alasannya gudang penuh dan tidak mau menampung. Kami berharap agar pemerintah serius dalam membatasi kuota impor. Apalagi, pada akhir tahun 2019 ini petani garam di Madura sedang panen raya,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Komisi B DPRD Jatim Aliyadi Mustofa mengatakan dalam waktu dekat pihaknya segera mengajukan Raperda tentang garam. Hal tersebut menurutnya untuk melindungi nasib petani garam di Jatim, “Dalam Perda ini tentunya perda tersebut tak berbenturan dengan aturan pemerintah pusat,” jelasnya. 

Mantan ketua Komisi C DPRD Sampang ini mengatakan selain perda pergaraman, pihaknya juga mengusulkan yang lebih penting lagi adalah dibentuknya sebuah badan khusus pergaraman. “Dalam badan tersebut nantinya akan berisikan perwakilan-perwakilan dari petani garam dimana di dalam badan tersebut kami bisa memantau harga hingga serapan petani garam yang ada di Jatim melalui satu kelembagaan,” terangnya.

Aliyadi Mustofa mengungkapkan munculnya usulan dibentuk perda dan badan tentang garam tersebut merupakan bentuk keprihatinan Komisi B DPRD Jatim terhadap nasib petani garam di Jatim. Pria asal Sampang ini lalu mencontohkan  keprihatinan tersebut antara lain anjloknya harga garam itu membuat petani di Madura terancam gulung tikar. “Harga terendah Sekarang Rp 275 di gudang perusahaan, kalau di petani dikurangi Rp 90 jadi sekitar Rp 170 dan ini terendah sepanjang sejarah sejak tahun dua ribuan lalu," pungkas politisi PKB ini. (mus/rak)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia