Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

Pengedar Sabu di Buduran Dihukum Penjara Seumur Hidup

06 November 2019, 16: 21: 39 WIB | editor : Wijayanto

NYENGIR: Terdakwa Heru Setyo Dwiyanto dikawal polisi menuju ruang sidang.

NYENGIR: Terdakwa Heru Setyo Dwiyanto dikawal polisi menuju ruang sidang. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Heru Setyo Dwiyanto, 38, pengedar sabu-sabu (SS) asal Buduran menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Rabu (6/11). Terdakwa dengan barang bukti sabu seberat 4 kilogram itu divonis penjara seumur hidup.

Pria asal Malang yang tinggal di Jalan Mangundiprojo Gang Buyut, Sawahan, Buduran, itu duduk di kursi pesakitan dengan didampingi dua penasihat hukumnya. Ia menjalani sidang vonis di hadapan Ketua Majelis Hakim I Ketut Suarta.

Ketut mengungkapkan, sejumlah keterangan saksi dan bukti yang dihadirkan di persidangan telah memperjelas perkara terdakwa. "Terdakwa dinyatakan bersalah dalam perkara penyalahgunaan narkotika dengan berat melebihi 5 gram" terangnya.

Setelah mempertimbangkan berbagai keterangan saksi dan pembelaan terdakwa, hakim telah memutuskan untuk memberikan vonis maksimal. "Pidana penjara seumur hidup," tegas Ketut.

Dalam petimbangannya, Ketut menjabarkan jika banyak hal yang membuat majelis mengambil vonis maksimal. Di antaranya, terdakwa yang diringkus anggota Polda Jatim itu telah berulang kali mengedarkan narkotika golongan sabu tersebut.

Sebelum tertangkap, terdakwa telah meranjau sekitar 6 kilogram SS di beberapa titik di daerah Sidoarjo. Mulai dari pintu gerbang masuk perumahan Puri Surya Jaya Buduran, hingga depan kompleks pergudangan Safelock Buduran. Terdakwa menerima dan meranjau narkotika itu atas perintah seseorang bernama Bara.

Dalam beberapa tahun belakangan, terdakwa juga sudah banyak menerima upah dari keberhasilannya meranjau SS. “Setiap 1 gram dapat upah Rp 5 juta, tinggal dikalikan. Dan itu sudah habis dinikmati,” terang Ketut.

Dalam persidangan sebelumnya, penasihat hukum terdakwa 1sempat mengajukan pembelaan. Mereka menyebut jika terdakwa adalah korban karena hanya berniat membantu Bara.

Namun pembelaan itu dapat dikesampingkan oleh majelis hakim. Karena dari fakta di persidangan, terungkap jika terdakwa sendiri yang aktif untuk mencari pekerjaan. Terdakwa pun menerima pekerjaan sebagai kaki tangan Bara.

Menanggapi vonis dari majelis hakim tersebut, terdakwa tidak tinggal diam. Melalui penasihat hukumnya, terdakwa mengajukan banding atas vonis yang dijatuhkan. (son/jay)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia