alexametrics
Jumat, 03 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Biaya Produksi Terus Naik, PDAM Surabaya Ancang-Ancang Naikkan Tarif

05 November 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Direktur PDAM Surya Sembada Surabaya Mujiaman Sukirno

Direktur PDAM Surya Sembada Surabaya Mujiaman Sukirno (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

Share this      

SURABAYA – Manajemen PDAM Surya Sembada Surabaya ancang-ancang melakukan kenaikan tarif. Hal ini dikatakan Direktur PDAM Surya Sembada Surabaya Mujiaman Sukirno. Pihak manajemen sudah menganalisis biaya produksi dan pemeliharaan yang terus meningkat.

“Kami sudah analisis dan sampaikan biaya produksi yang meningkat dan pemeliharaan yang terus naik. Tapi untuk urusan kenaikan, itu wewenangnya Wali Kota Surabaya,” kata Mujiaman di Surabaya, Senin (4/11).

Mujiaman mengungkapkan, sudah 14 tahun ini PDAM belum melakukan penyesuaian tarif. Sehingga, tahun depan kemungkinan dilakukan penyesuaian tarif. “Kami sih bisa efisiensi. Terbukti saat ini ada kenaikan laba,” ungkapnya.

Selain itu, PDAM mempunyai program air unggulan yang rencananya akan didistribusikan ke perumahan elite. “Jatah PDAM seribu liter per detik nantinya distribukan di sejumlah perumahan seperti Ciputra, Graha Famili, Pakuwon, Darmo Permai,” terangnya. “Air unggulan itu harganya untuk masyarakat kaya Rp 3.500. Kalau untuk masyarakat biasa ya sangat berat. Selama ini hanya Rp 1.900,” katanya. 

Sebelumnya, Mujiaman mengatakan, Kota Surabaya memiliki permasalahan serius dengan kualitas air minum. Sebab, baku mutu air yang dikelola PDAM masih di kelas dua. “Ini menjadi satu perhatian yang sangat serius,” ujarnya.

Jika mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, air kelas dua adalah air yang peruntukan untuk rekreasi air, budidaya ikan air tawar, petemakan dan mengairi pertanaman.

Penyebab kualitas air baku PDAM rendah karena sebagian besar air berasal dari Sungai Brantas. Sementara, air sungai Brantas sudah tercemar limbah. Sekitar 35 persen limbah cair berasal dari industri dan sisanya dari masyarakat. “Industri yang paling banyak, industri kertas, industri baja, dan industri minuman,” katanya.

Agar kualitas air PDAM Surabaya dapat diperbaiki, limbah Sungai Brantas harus ditekan. Menurut Mujiaman, caranya dengan mengontrol konsumsi air di tingkat industri. “Industri itu kan ada perizinannya. Seharusnya lebih mudah dikontrol. Kalau kita konsumsi air lebih sedikit, itu artinya kita menghasilkan limbah lebih sedikit,” katanya.

Menurut Mujiaman, saat ini PDAM Surabaya memiliki 570 ribu pelanggan. Hampir semua air yang disalurkan PDAM berasal dari Sungai Brantas. (rmt/rek)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia