Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya
Surabaya Smart City 2019

Lurah Harus Menguasai Materi Penjurian

29 Oktober 2019, 17: 12: 40 WIB | editor : Wijayanto

SEMANGAT:  Sekretaris DKRTH Surabaya Ipong Wisnoewardono (empat dari kanan) berfoto bersama perwakilan peserta usai technical meeting Surabaya Smart City 2019 di kantor BAPPEKO Surabaya.

SEMANGAT: Sekretaris DKRTH Surabaya Ipong Wisnoewardono (empat dari kanan) berfoto bersama perwakilan peserta usai technical meeting Surabaya Smart City 2019 di kantor BAPPEKO Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Selangkah lagi  75 juara Rukun Warga (RW) terbaik dalam gelaran Surabaya Smart City (SSC) 2019 akan segera dipilih. Saat ini program yang diinisiasi oleh Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya ini telah memasuki babak semifinal.

BAGI ILMU: Motivator Lingkungan DKRTH Surabaya Adi Candra berbicara kepada perwakilan peserta saat technical meeting Surabaya Smart City 2019 di kantor BAPPEKO Surabaya.

BAGI ILMU: Motivator Lingkungan DKRTH Surabaya Adi Candra berbicara kepada perwakilan peserta saat technical meeting Surabaya Smart City 2019 di kantor BAPPEKO Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Sebanyak 150 RW terbaik akan menghadapi penjurian di kompetisi tahap akhir ini. Oleh sebab itu, DKRTH menyelenggarakan technical meeting (TM) guna mempersiapkan kampung-kampung tersebut dalam menghadapi penjurian yang akan dilakukan dengan dua cara, yakni penjurian paparan dan penjurian lapangan.

Sekretaris Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya Ipong Wisnoe Wardhono menuturkan, TM ini sengaja diselengarakan untuk menyampaikan dua item penjurian tersebut. Oleh sebab itu, diharapkan nantinya dapat menghasilkan penyampaian informasi yang detail terkait kemampuan kampung masing-masing. "Kalau tidak disampaikan di awal, datanya nanti tidak akurat atau tidak valid, sehingga kemampuan dari RW masing-masing tidak terbaca tim SSC," terangnya.

Menurut Ipong, hal paling utama yang harus disiapkan oleh kampung dalam menghadapi penjurian ini adalah terkait informasi geografis yang harus dipastikan semuanya sudah ada. "Kalau untuk smart environment sudah sering disampaikan. Tetapi yang baru adalah data terkait smart social dan smart economy  di dalamnya terdapat produk unggulan yang kadang Lurah kurang memahami," ujarnya.

Oleh sebab itu, dalam dalam melakukan presentasi, nantinya, Lurah didampingi oleh Sekretaris Kelurahan, Tim Pendamping Lingkungan SSC, Ketua RW dan Ketua RW.

Lurah diberi waktu selama 10 menit untuk presentasi sekaligus tanya jawab. "Mereka dapat menyampikan materinya dalam format power point (PPT) secara jelas dan sarat dengan informasi sesuai dengan wilayah masing-masing. Selain, mereka juga menyampaikan materi berupa narasi, data, dokumentasi atau video," papar Ipong.

TM yang dihadiri oleh pejabat DKRTH, Camat, Lurah dan Faskel kota Surabaya ini juga menyampikan terkait komposisi tim penjurian yang juga dibagi menjadi dua. Untuk tim juri paparan terdiri dari akademisi perguruan tinggi, praktisi swadaya masyarakat, media partner, dinas perdagangan, dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Ujian pemaparan ini dilakukan mulai tanggal 4-8 November 2019 berlokasi gedung A kantor DKRTH.

Sementara tim juri lapangan terdiri dari akademisi atau perguruan tinggi, praktisi atau lembaga swadaya masyarakat, media partner, dinas perdagangan, dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, dinas lingkungan hidup, dinas kesehatan, dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau, dan dinas pertanian. Jadwal penjurian lapangan dilakukan selama tanggal 11-29 November. "Ujian paparan dan ujian lapangan ini dilakukan sekali sekaligus untuk mencari 75 RW terbaik dan siapa saja juaranya," paparnya.

Adapun komposisi penilaian terdiri dari penilaian presentasi atau paparan yang memiliki bobot 20 persen dan penilaian lapangan memiliki bobot 80 persen. (cin/rak)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia