Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features

Program BERISI ACT Sapa Pesantren Tempat Belajar KH Hasyim Asyari

29 Oktober 2019, 08: 16: 07 WIB | editor : Wijayanto

BERISI: Tim ACT Jatim menyerahkan beras berkualitas kepada para santri PP Al Hamdaniyah di Sidoarjo.

BERISI: Tim ACT Jatim menyerahkan beras berkualitas kepada para santri PP Al Hamdaniyah di Sidoarjo. (ISTIMEWA/ACT)

Share this      

SURABAYA - Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan pada tahun 1787 M merupakan PP yang menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo, Jawa Timur, itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar Indonesia.

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar seperti KH M Hasyim Asy'ari, KH Asy'Ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi.

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di Desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren yang didirikan oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy'ari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar lima tahun lamanya," ulas Gus Hasyim, sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi.

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asy'ari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim

Sebanyak 200 santri menetap dan belajar di pondok. Mereka diajarkan ilmu agama dan kemandirian. Santri makan dua kali sehari dengan masak sendiri. Mereka membagi jadwal masak antar santri sehingga tercipta kebersamaan.

Program beras untuk santri (Berisi) merupakan hasil insiasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk memenuhi kebutuhan pangan santri. Program ini dilaunching oleh Aksi Cepat Tanggap di saat peringatan Hari Santri Nasional yang lalu.

"Kita salurkan 1 ton beras untuk Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah, sebagaimana kita ketahui pondok ini berjasa mencetak ulama-ulama besar seperti KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama" ujar Wahyu Sulistianto Putro selaku Kepala Cabang ACT Jatim

Wahyu menambahkan, beras yang disumbangkan adalah beras terbaik yang berasal dari petani lokal. "Ini sebagai upaya ACT untuk memberdayakan petani kita. Program BERISI rencananya juga akan kami salurkan ke beberapa pesantren di Jawa Timur," katanya. (aa/act/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia