Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Belanja Kurang, Gak Dikasih Jatah Ranjang, Nekat Kencani Wanita Malam

29 Oktober 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Dari cerita Karin, 28, kita kembali diingatkan. Agar kalau ingin sesuatu dari pasangan, lebih baik diutarakan saja. Jangan main kode-kodean. Suami Anda bukan detektif yang bisa memecahkan kode dan sandi dengan mudah.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Sudah lima bulan Karin enggan memberikan ‘jatah’ ke suaminya. Dulu, motivasinya adalah agar suaminya sadar, kalau jatah belanjaannya kurang. Agar mau lebih giat bekerja. Tapi sayang, diberi kode begitu, Donwori,31, tetap tak peka-peka. 

"Sebentar lagi anak mau TK, tapi tak minta pindah kerja sing lebih mbejaji, gak mau. Mbelani gaji cilik gak sampe UMR, padahal dekne sik betah seneng-seneng. Sik rokokan. Duwite cepet enteke," ujar Karin, kesal, di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan lalu. 

Niatan yang awalnya sekadar untuk menyentil suaminya itu, lama-lama jadi kebiasaan. Dulu sih, maunya hanya seminggu dua minggu saja. Sampai Donwori membuka omongan dan berubah, pikirnya. Namun, akhirnya keterusan jadi kebiasaan.

Donwori tak peka-peka, sementara Karin saking geregetannya juga sudah tak butuh ‘begituan’. "Dulu awal-awal sik ngrayu lek tak tolak, sempet nangis sisan. Cuman karena terus gak tak kasih, saiki langsung ngamuk. Metu omah, embuh nangdi parane," lanjut Karin dengan senyum kecut.

Ke mana perginya Donwori setiap setelah cekcok dengan Karin, sebenarnya sudah bisa ditebak. Ya, dia pergi mencari pelampiasan dengan mengencani wanita satu malam. Di awal-awal, Karin juga bodo amat. Yang penting bukan dia yang melayani suaminya.

Tapi lama-lama, ia makin kesal karena jatah pemberian Donwori ini makin minim karena terpotong Rp 500 ribu untuk jajan. Sudah minim, disunat lagi untuk begituan. Karin yang kesal akhirnya minta cerai saja. Setelah melewati drama percekcokan besar, akhirnya Donwori setuju untuk pisah. 

Dan baru di depan hakim inilah Donwori akhirnya tahu makna di balik penolakan Karin. Itu pun setelah ia mengolok-olok Karin dengan sebutan istri tidak taat dan tidak tahu kewajiban. "Baru nek ngarep hakim tak sampekno kalau itu adalah cara paling mentok biar dia sadar. Pancet ae gak sadar, malah nyalahno aku," lanjutnya.

Demi mendengar pembelaan Karin di depan hakim, Donwori yang saat itu duduk di hadapannya menatap dengan tatapan kesal. Namun, perseteruan sudah kadung berlanjut. Perceraian itu pun tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tak mau kalah, Karin juga mempermasalahkan keputusan Donwori yang jajan, alih-alih mau peka mencari letak kesalahannya.

Karin sebenarnya sadar, cara yang ia lakukan salah. Tak mencerminkan istri yang berbakti juga. Namun, ia sudah kehabisan akal untuk memotivasi suaminya. Setiap kali diingatkan, Donwori ini selalu menyambar dengan kata-kata menggampangkan.

"Wes talah, rezeki wes ono sing ngatur. Mbesuk lek wayahe (anak-anak, Red) sekolah, lak enek ae," kata Donwori tanpa ia sadar, sehari-harinya Karin juga memutar otak agar pemberian suaminya bisa dipakai belanja satu bulan. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia