Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Gresik

Jebolan Doktor Luar Negeri yang Kelola Penggilingan Sampah

25 Oktober 2019, 17: 58: 34 WIB | editor : Wijayanto

DIOLAH: Iswanda Fauzan Satibi melakukan proses pengolahan sampah cup dan botol plastik untuk digiling menjadi plastik kecil untuk di jual.

DIOLAH: Iswanda Fauzan Satibi melakukan proses pengolahan sampah cup dan botol plastik untuk digiling menjadi plastik kecil untuk di jual. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

Sampah sering menjadi persoalan masyarakat di Gresik. Namun, image itu diubah oleh pemuda asal Desa Indrodelik Kecamatan Bungah, Iswanda Fauzan Satibi, 28. Dengan membentuk Argoplas (Arek Golek Plastik), jebolan doktor Universitas Malaysia itu berhasil menjadikan sampah cup dan botol plastik jadi uang puluhan juta.

Yudhi Dwi Anggoro-Wartawan Radar Gresik

Melalui penggilingan sampah plastik yang disebut Argoplas, Iswanda Fauzan Satibi itu mampu memproduksi 1 ton cacahan plastik per hari. Dalam sebulan, jebolan Alumnus S1 Universitas Indonesia, S2 Victoria University, Selandia Baru dan S3 di Universitas Malaya, Malaysia itu mampu mendapatkan omzet Rp30 juta hingga 35 juta.

Fauzan mengatakan, sampah berupa cup dan botol plastik diperoleh dari desa-desa di wilayah Gresik utara seperti Kecamatan Bungah dan Sidayu. Sampah yang sudah dikumpulkan dipilah sesuai jenisnya. Lalu dimasukan ke alat penggilingan sehingga menjadi cacahan-cacahan plastik kecil. “Hasilnya dikirim ke teman di daerah Morowudi Benjeng untuk diekspor,” kata Fauzan.

Diakui Fauzan, tidak mudah membangun usaha pengolahan sampah. Apalagi tidak semua orang bergelut dengan sampah. Untuk pengelolaan dan pemilahan jenis sampah dirinya mengandeng anak muda dan ibu-ibu di desanya. “Ibu-ibu biasanya datang sore hari. Saya ajak untuk mengelola bersama. Lumayan menjadi penghasilan tambahan bagi keluarga mereka,” terangnya.

Sistem pengelolaan secara modern itu dipelajari saat ia kuliah di luar negeri. Pengelolaan sampah diperlukan sistem manajemen yang modern dan terarah. “Untuk pengelolaan bank sampah sebaiknya cukup satu orang saja per desa yang mengatur manajemennya, insyaallah berhasil. Warga yang lain melakukan proses pemilahan dan mencari sampah. Kalau semua pada ikut memanajemen hasilnya tidak baik,” pungkasnya.(*/ han)

(sb/yud/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia