Kamis, 23 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Features

Santri Indonesia Tetap Belajar Meski Tak Berkecukupan Pangan

25 Oktober 2019, 15: 26: 22 WIB | editor : Wijayanto

SUPPORT PANGAN: Para santri menenteng beras yang ia terima dari program BERISI.

SUPPORT PANGAN: Para santri menenteng beras yang ia terima dari program BERISI. (ISTIMEWA/ACT)

Share this      

JAKARTA – Dalam peringatan Hari Santi lalu, masih cukup banyak santri di berbagai pelosok negeri yang kehidupannya masih memprihatinkan. Mereka menuntut ilmu walau dengan fasilitas pendidikan yang terbatas. Tidak jarang pula, mereka terkendala masalah ketersediaan pangan. Walau dalam keterbatasan fasilitas serta kurangnya ketersediaan pangan, para santri tidak patah semangat.

PENERIMA BERISI: Suasana upacara di MAS Darul Ulum Sikakap, Mentawai, Sumbar. MAS Darul Ulum merupakan satu-satunya sekolah tingkat atas berbasis Islam di wilayah ini.

PENERIMA BERISI: Suasana upacara di MAS Darul Ulum Sikakap, Mentawai, Sumbar. MAS Darul Ulum merupakan satu-satunya sekolah tingkat atas berbasis Islam di wilayah ini. (ISTIMEWA/ACT)

Kondisi ini terlihat di Pesantren Al-Istiqomah, Kampung Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Fasilitas mereka untuk menuntut ilmu sangatlah sederhana. Bahkan, para santri dan ustaz pengajar sempat kekurangan logistik pangan ketika pecah konflik kemanusiaan di Wamena, beberapa pekan lalu.

Hal serupa juga dapat dilihat di MAS Darul Ulum Sikakap, Mentawai, Sumatera Barat. Belajar dengan fasilitas yang masih terbatas seakan sudah terbiasa. Mereka hanya belajar dengan dua kelas yang digunakan secara bergantian untuk tiga tingkat. Sedangkan satu ruang kelas kini telah disulap sebagai tempat tinggal santri yang menetap di sekolah.

Masih banyak kondisi pesantren yang memprihatinkan di berbagai penjuru negeri, Ustaz Fadlan Garamatan mengatakan bahwa santri perlu terus mengemban ilmu walau dengan kondisi dan fasilitas yang terbatas di pesantren. “Santri merupakan penerus para nabi,” ungkap Ustaz Fadlan.

Keputusan untuk menggratiskan biaya kadang menjadi pilihan sulit bagi pengelola pesantren. Namun, tidak mungkin pula dibebankan kepada santri yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, terutama kepada lapisan masyarakat miskin yang ingin teguh menjadi pewaris nabi ataupun bagi yang tidak mampu bersaing biaya dengan sekolah formal modern.

Di tengah ketekunan para santri yang kerap tak tercukupi oleh bahan pangan utama di pondok pesantrennya, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggulirkan program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI). Program ini menyediakan kebutuhan beras bagi pesantren-pesantren yang paling membutuhkan di berbagai pelosok negeri.

Pesantren yang dibina Ustaz Fadlan merupakan salah satu pesantren yang menjadi target implementasi perdana program BERISI. ACT memberikan satu ton beras kepada Pesantren Nuu Waar Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN), Kecamatan Setu, Bekasi, Jawa Barat.

Ustaz Fadlan Garamatan selaku Pimpinan Pondok Pesantren Nuu Waar AFKN bersyukur dengan hadirnya bantuan beras dari ACT tersebut. “Alhamdulillah di hari pertama setelah Hari Santri Nasional, ACT bersilaturahim ke sini dan membawa satu ton beras. Alhamdulillah juga, beras dari program BERISI ini telah diterima oleh para santri,” ucap Ustaz Fadlan.

Selain pesantren Nuu Waar AFKN, masih banyak pesantren lain yang membutuhkan dukungan BERISI. “Kita tahu di Indonesia ini ada hampir 29.000 pesantren (data Kemenag RI). Dari pengamatan kami atau informasi yang kami dapatkan, sekitar 60-70 persen ini masuk kategori pesantren yang harus kita bantu. Di sini saja ada 400 orang santri yang tentu bisa kita bayangkan kebutuhan pangannya setiap hari. Baik yang wajib dari beras sampai lauk-pauk untuk mereka makan,” kata Wahyu Novyan selaku Direktur Program ACT. (act/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia