Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Hari Santri Nasional, Khofifah Ajak Santri Membangun Perdamaian

23 Oktober 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BAWA PESAN DAMAI: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyalami para santri usai upacara Peringatan Hari Santri Nasional di Mapolda Jatim, Selasa

BAWA PESAN DAMAI: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyalami para santri usai upacara Peringatan Hari Santri Nasional di Mapolda Jatim, Selasa (22/10). (HUMAS PEMPROV JATIM)

Share this      

SURABAYA – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2019, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berpesan agar para santri membangun perdamaian di seluruh dunia. Selain itu ia juga meminta agar santri melakukan salat istisqa untuk meminta hujan agar kemarau panjang segera selesai. 

Khofifah mengatakan, berangkat dari heterogenitas yang menjadi bagian dari Indonesia, ia mengajak seluruh santri untuk membangun dengan suasana saling menghormati, saling menghargai dan membangun harmoni. "Kami juga mengajak seluruh pesantren, santri serta para kiai unuk menghadirkan Islam Rahmatan Lil Alamin dan penuh damai,” ujarnya usai Peringatan HSN di Mapolda Jatim, Selasa (22/10). 

Lebih lanjut mantan menteri sosial ini juga menjadikan Islam penuh kasih yang bisa mengayomi melindungi dan berseiring dengan seluruh keberagaman yang hidup, sehingga akan menjadi referensi dunia. “Saya berharap bahwa hari santri kali ini yang ingin membangun pesan perdamaian untuk dunia," katanya.

Sementara itu Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan mengatakan, peringatan HSN ini salah satu bentuk apresiasi dari Polri untuk santri. Sebab, kondusivitas di Jatim juga tak luput dari doa dan dukungan dari para santri. “Kami berpesan, khususnya para santri untuk memiliki wawasan kebangsaan dan keagamaan serta wawasan pembangunan supaya menjadi SDM yang unggul dan untuk Indonesia maju,” pungkasnya.

Definisi santri saat ini bukan hanya mereka yang belajar di pesantren mengenai ilmu agama, tauhid, fiqih, tasawuf, dan akhlak. Melainkan santri ialah seorang muslim yang ikut dan patuh terhadap dawuhnya kyai dan memiliki semangat yang sama layakya santri. Di era sekarang ini, juga muncul istilah santri milenial.

Salah satu dosen agama Universitas Airlangga (Unair) Ahmad Syauqi menjelaskan, santri milenial adalah santri yang hidup di era milenial yang serba cepat, praktis, dan terkoneksi dengan dunia internet. Menurutnya, di era revolusi industri saat ini santri milenial harus mampu ikut andil dalam perkembangan zaman demi kemajuan peradaban.

“Santri milenial harus memiliki empat kemampuan utama, di antaranya, skill manajerial, organisasi, menulis atau jurnalistik, dan berbicara atau public speaking yang baik. Selain itu, santri milenial harus mampu memanfaatkan kemajuan revolusi industri 4.0 untuk menciptakan semangat kreatif dan inofatif dalam menyebarkan dakwah,” terangnya. 

Peringatan HSN 2019 juga diadakan di Tugu Pahlawan. Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri menyampaikan bahwa momen HSN tersebut sebagai bentuk untuk membentengi diri agar para santri dan terutama warga Surabaya untuk dapat menolak segala upaya merusak negeri ini seperti hadirnya kelompok radikalisme dan intoleransi yang mengatasnamakan agama. "Dakwah harus lebih masif dan serius sehingga kehadiran yang semakin massif itu mengurangi radikalisme,” katanya. 

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya Husnul Maram mengatakan, momentum HSN juga untuk memperkuat dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian. “Santri di Surabaya bisa berperan dalam merekatkan hubungan sosial kemasyarakatan sehingga Surabaya semakin aman dan maju, jadi peran santri ini untuk menjaga Surabaya agar semakin kondusif,” katanya 

 (mus/is/rmt/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia