Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Catat Jentik Nyamuk dengan Aplikasi Si Butik

22 Oktober 2019, 22: 06: 53 WIB | editor : Wijayanto

BARU: Sri Indah warga desa Pademonegoro, Sukodono menunjukkan aplikasi Si Butik Sidoarjo Berburu Jentik yang telah di unduhnya.

BARU: Sri Indah warga desa Pademonegoro, Sukodono menunjukkan aplikasi Si Butik Sidoarjo Berburu Jentik yang telah di unduhnya. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO – Penyakit demam berdarah dangue (DBD) akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti masih menjadi momok. Pemeriksaan jentik pada tempat-tempat penampungan air adalah jurus jitu untuk memberantasan sarang nyamuk. 

Selama ini, pencatatan temuan jentik nyamuk masih dilakukan oleh kader pemantik di setiap wilayah secara manual per bulannya. Tetapi, melalui aplikasi Si Butik atau Sidoarjo Berburu Jentik ini, masyarakat diajak peduli memeriksa jentik nyamuk secara mandiri. 

Setiap rumah maka idealnya harus memiliki juru pemantik. Setiap jumat harus mengisi form di apliksai, apakah ada jentik di kamar mandi atau tempat penyimpanan air lainnya. Data tersebut akan terekap menjadi grafik. Di aplikasi Si Butik akan muncul berapa rumah per RT per RW dan tempat-tempat umum (TTU) lainnya seperti pasar, musala, dan sekolah.

“Salah satunya supaya lebih bisa waspada. Ternyata jentik di desa ini masih sekian. Karena angka bebas jentik minimal 95 persen,” ujar Kepala Puskesmas Sukodono, dr. Luki Rahayu kepada Radar Sidoarjo. 

Aplikasi Si Butik masih tahap sosialisasi ke desa-desa yang menjadi pilot project. Senin (21/10), para kader dan pihak terkait di Desa Pademonegoro Sukodono, diberikan arahan penggunaan aplikasi Si Butik itu. 

Masing-masing puskemas menunjuk ada dua desa yang kadernya memiliki kesadaran tinggi dalam penanggulangan DBD ini. “Di Sukodono, selain Pademonegoro, ada desa Suruh,” ujarnya. 

Jika angka bebas jentik dibawah itu harus masyarakat harus waspada. Supaya tetap melakukan 4M plus. Yakni menguras, menutup, mengubur dan memantau plus menghindari dari gigitan nyamuk. Dimana saat ini kewaspadaan terhadap penyakit menular lebih ditinggalkan. Sekarang jarak jangkauan nyamuk Aedes Aegypty bisa mencapai 10 kilometer. 

“Eranya sekarang  penyakit tidak menular. Tetapi karena DBD sudah mengenai satu orang saja, ibarat ledakan langsung ramai minta fogging,” katanya.

Luki mengatakan, dengan fogging bukan cara yang sehat. Fogging hanya berfungsi untuk mematikan nyamuk dewasa, bukan jentik nyamuknya. Fogging sama dengan menyemprot obat anti nyamuk ruangan, yang sehari dua hari bisa membunuh nyamuk, tapi jentik nyamuk tetap bisa tumbuh.  “Mulai dari sekarang pemantauan jentik harus menjadi budaya,” tegas Luki. 

Tindakkan fogging harus memenuhi kriteria tertentu. Dimana ada pengidap demam berdarah di satu wilayah, kemudian di sekitarnya sekitar 20 rumah, juga mengalami demam tanpa sebab yang jelas. Bisa dikatakan angka bebas jentik di daerah tersebut rendah. 

Sri Indah, kader dari RT 2 Pademonegoro, menyatakan, aplikasi Si Butik mudah di gunakan. “Langsung ngerti begitu di jelaskan,” tandasnya. (rpp/nis)

(sb/rpp/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia