Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kya-Kya Kembang Jepun Jadi Inspirasi Pasar Semawis di Pecinan Semarang

22 Oktober 2019, 16: 48: 54 WIB | editor : Wijayanto

ANGKAT KOTA LAMA: Sajian musik campursari di Mami Kola Jalan Kembang Jepun.

ANGKAT KOTA LAMA: Sajian musik campursari di Mami Kola Jalan Kembang Jepun. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Jalan Kembang Jepun alias Handelstraat pernah menjadi pusat bisnis utama di Kota Lama Surabaya. Kembang Jepun pun pernah sangat ramai pada malam hari dengan aneka kuliner dan seni budaya Tionghoa.

Ketika Kya-Kya Kembang Jepun masih eksis (2003-2008), setiap malam ribuan pengunjung memenuhi jalan raya utama di kawasan pecinan sepanjang 700-an meter itu. Ratusan pedagang kaki lima (PKL) berjualan di sisi utara dan selatan jalan utama di kawasan Surabaya Utara itu.

Sayang, proyek wisata khas kota lama Kya-Kya Kembang Jepun tersebut tidak berlangsung lama. Hanya bertahan sekitar lima tahun. Setelah itu Kembang Jepun kembali menjadi kawasan yang sepi dan redup pada malam hari. "Makin malam makin sepi. Takut kalau melintas di atas pukul 23.00," kata Wawan, warga Sidoarjo, yang bekerja di kawasan Surabaya Utara.

MIRIP KYA KYA: Suasana Pasar Semawis di Kota Semarang.

MIRIP KYA KYA: Suasana Pasar Semawis di Kota Semarang. (ISTIMEWA)

Meskipun arena kuliner malam hari sudah tidak ada, konsep pujasera di jalan raya ala Kya-Kya Kembang Jepun, Surabaya, justru diadopsi di Kota Semarang. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus mengadakan Pasar Semawis atau Waroeng Semawis di kawasan pecinan setiap akhir pekan (Jumat--Minggu), dari pukul 18.00 hingga 23.00. Aneka makanan khas Semarang hingga kuliner Tionghoa dengan mudah kita jumpai di sini.

''Awalnya, Semawis ini adalah Pasar Imlek Semawis untuk memperingati 600 tahun kedatangan Laksamana Cheng Hoo di Semarang. Digelar selama tiga hari jelang Hari Raya Imlek. Acara ini kemudian digelar mingguan dengan sebutan Pasar Semawis," ujar Pratono, wartawan senior di Semarang, pekan lalu.

Selain kuliner, menurut dia, di Semawis juga digelar atraksi seni budaya yang multikultur. Mulai seni budaya Jawa, Tionghoa, dan etnis lain. Saat ini Semawis telah menjadi salah satu jujukan wisatawan saat berkunjung ke Semarang. "Makanya, kalau berkunjung ke Semarang sebaiknya pada akhir pekan. Biar bisa menikmati aneka kuliner di Semawis," katanya. (rek)

(sb/rek/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia