Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Sambut Musim Hujan, DPUBMSDA Konsentrasi Tiga Wilayah Rawan Banjir

22 Oktober 2019, 05: 23: 19 WIB | editor : Wijayanto

BERSIAP: Normalisasi sungai Mangetan Kanal di Gedangan.

BERSIAP: Normalisasi sungai Mangetan Kanal di Gedangan. (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SURABAYA - Musim penghujan akan tiba sebentar lagi. Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPU BMSDA) melakukan serangkaian percepatan untuk mengantisipasi genangan di musim hujan.  

Kepala DPU BMSDA Suryaning Setyaningsih menjelaskan, sejak September persiapan mulai dilakukan. Di antaranya sudah memanaskan pompa portable ataupun pompa air yang ada di rumah pompa.

Termasuk men-standby -kan sebanyak 40 petugas piket banjir dan petugas di semua Unit Pelayanan Teknis (UPT). Untuk berkoordinasi terkait pintu air mana yang akan dibuka, pompa mana yang harus dioperasionalkan ketika hujan mengguyur. 

Tiga wilayah di Sidoarjo di perkirakan masih menjadi langganan banjir. Sesuai dengan master plan banjir untuk tiga wilayah yakni utara, tengah kota dan selatan. “Jadi prioritas kami,” ujar Naning, sapaan akrabnya. 

Di utara, banjir masih mengancam Tambaksawah dan Tropodo yang berada di kecamatan Waru. Di kawasan kota, potensi genangan ada di Sidokare.  Sedangkan di wilayah selatan ada Wunut, Pesawahan, Jalan Raya Porong, Kalitengah Tanggulangin, dan Kecamatan Jabon. 

Naning berujar, banjir di Sidoarjo tidak bisa dihindari. Karena posisi Sidoarjo sebagai kota delta, yang datarannya lebih rendah dari daerah sekitarnya. “Paling tidak kita mengurangi lama dan tinggi genangan,” imbuhnya. 

Kemudian, DPU BMSDA juga tengah gencar normalisasi aliran sungai. Baik yang kontraktual dan swakelola, sedang berjalan. “Pembersihan sampah setiap hari kami keliling. Kami berkolaborasi dengan DLHK untuk pengelolaan salurannya,” tegasnya. 

Karena budaya buang sampah sembanrangan masih marak, kesadaran masyarakat masih rendah. menyumbat saluran dan genangan tidak bisa di hindari. Seperti di Mangetan Kanal, yang saat ini masih dalam tahap normalisasi.

Apalagi masih marak bangunan yang berdiri di atas aliran sungai yang mengakibatkan penyempitan sungai seperti di Tambaksawah Waru.

Sejak tahun 2005 bangunan liar sudah ditertibkan, namun masyarakat masih bandel mendirikan bangunan di atas sungai. “Usaha yang kami lakukan tidak ada artinya jika tidak ada partisipasi masyarakat,” ujarnya. (rpp/nis)

(sb/rpp/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia