Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Hearing di Dewan, Rencana Relokasi PKL Jalan Anggrek Berjalan Alot

22 Oktober 2019, 04: 52: 56 WIB | editor : Wijayanto

BELUM ADA SOLUSI: Hearing di Komisi B antara Pemkot Surabaya dan para pedagang di Jalan Anggrek.

BELUM ADA SOLUSI: Hearing di Komisi B antara Pemkot Surabaya dan para pedagang di Jalan Anggrek. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Rencana Pemerintah Kota Surabaya untuk merelokasi pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan Anggrek (sebelah Mal Grand City) berlangsung alot dan tidak menemukan solusi.

Hal ini terlihat dari hearing di ruang Komisi B DPRD Surabaya pada Senin (21/10). Saat hearing kedua belah pihak tetap kekeh untuk mempertahankan argumennya.

Menurut Ketua Paguyuban PKL Jalan Anggrek, M Zein bahwa tempat berdagang saat ini sudah ditempati lebuh dari 10 tahun. Sehingga kalau disuruh pindah ke tempat yang disediakan Pemkot Surabaya maka ditakutkan dagangan PKL tersebut tidak laku.

“Kalau dipindah tidak ada solusi yang jelas sama saja membunuh penghasilan kami. Ibaratnya ini sudah menjadi sandang pangan kami di situ (jalan Anggrek, Red),” katanya.

M Zein mengungkapkan bahwa riwayat pendirian PKL tersebut sebelumnya sudah mendapat restu dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Kami memang salah, tapi riwayat PKL itu atas restu bu wali. Bahkan kita diberi bantuan antara 100-150 unit PKL itu sekitar lima tahun yang lalu. Lha pertanyaannya kenapa kok tiba-tiba dipindah,” ungkapnya.

Rencana Dinas Koperasi dan Usaha Mikro untuk memindah PKL Jalan Anggrek ke Sentra Wisata Kuliner (SWK) mendapatkan reaksi keras. Menurut M Zein, pihaknya harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan para PKL. "Kami mintanya kami gak jauh-jauh dari situ,” terangnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Dwijayanto mengatakan bahwa langkah pemkot dalam rangka penataan siap menampung para PKL tersebut dengan melokalisirnya ke SWK. "Kami sudah siapkan di SWK, karena saat ini sudah ada sekitar 44 SWK yang ada di Surabaya. Sehingga nantinya kami melakukan pendekatan terhadap PKL agar bisa berjalan maksimal dalam relokasi nanti,” katanya.

Dwijayanto mengatakan bahwa relokasi PKL tersebut tidak usah dikhawatirkan karena pihaknya akan berusaha untuk membinan dan melatih mereka sehingga bisa memberikan penghasilan yang maksimal.

"Saat ini ada 1000 pedagang dari 44 Sentral Wisata Kuliner. Jadi pemkot tetap membina dengan cara memberikan pelatihan sehingga bisa maksimal hasilnya,” terangnya.

“Kami juga akan ajari untuk memasarkan, kami ajari juga untuk memasak agar bisa higienis dan enak untuk konsumen,” imbuhnya.

Menanggapi alotnya kedua belah pihak tersebut, Ketua Komisi B Luthfiyah mengatakan bahwa pihaknya meminta Pemkot Surabaya untuk menunda sementara waktu relokasi PKL Jalan Anggrek hingga ditemukan lokasi yang tepat.

Luthfiyah juga mengatakan bahwa hasil tinjauan di lapangan, sebagian besar pedagang di kawasan Jalan Anggrek merupakan penduduk asli Surabaya. "Secara aturan memang tidak boleh, tapi di sana (Jalan Anggrek, Red) hampir seluruhnya warga Kota Surabaya. Mereka juga melayani para karyawan yang ada di Grand City. Kalau mereka beli (stan) di dalam tidak cukup. Karena kami tahu UMK tidak cukup," ujarnya.

Politisi Gerindra ini mengatakan, pihaknya seminggu kedepan akan memanggil PT KAI untuk bisa memberikan tempat ke PKL tersebut.

"Minggu depan kami akan panggil PT KAI apakah ada tempat untuk PKL ini atau tidak. Sehingga kami ingin benar-benar ini ada solusi yang jelas dan keduanya harus legowo,”  pungkasnya. (rmt/jay)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia