Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Bahan Baku Emas Perhiasan Mahal, APEPI Minta Kemudahan Ekspor

18 Oktober 2019, 17: 24: 59 WIB | editor : Wijayanto

POSITIF: Pengunjung melihat perhiasan emas saat pameran Surabaya Jewellery Fair 2019 di hotel Shangri-La, Kamis (17/10).

POSITIF: Pengunjung melihat perhiasan emas saat pameran Surabaya Jewellery Fair 2019 di hotel Shangri-La, Kamis (17/10). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Harga emas perhiasan yang terus melambung membuat Asosiasi Pengusaha Emas Perhiasan Indonesia (APEPI) terus berupaya agar industri ini dapat bertumbuh ke arah positif. Pasalnya, harga bahan baku yang mahal dikeluhkan sebagian pengusaha yang bergerak di industri ini.

Oleh karenanya, saat ditemui di pembukaan pameran 24th Surabaya International Jewellerty Fair 2019, Sekretaris Jenderal APEPI Iskandar Husein menginginkan agar pemerintah bisa memfasilitasi pengusaha terutama dari segi kemudahan ekspor.

“Seperti tadi sudah dijelaskan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, saat ini pihaknya tengah menanti keputusan pemerintah yang meminta agar pengiriman atau ekspor perhiasan, khususnya emas dari wilayah setempat langsung menuju Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) tanpa melalui Singapura,” jelasnya.

Pasalnya hingga kini, saat Indonesia mengekspor ke UEA bakal terkena bea masuk lima persen. Berbeda dengan ketika mengekspor dari Singapura ke UEA yang hanya dikenakan bea masuk nol persen.

Selain kemudahan ekspor, untuk meningkatkan pertumbuhan industri perhiasan, pihaknya melihat jika saat ini perajin perhiasan mengakali harga bahan baku yang mahal dengan mengkreasikan produk berukuran besar namun bahan bakunya ringan. “Ada kolaborasi antara proses handmade dan teknologi permesinan yang dapat membuat produk terjangkau namun tetap berkualitas,” tambah Iskandar.

Di samping itu, para pengusaha di industri perhiasan juga harus mengetahui market yang akan dituju. “Jadi meski di Indonesia, produk bagus namun belum tentu dapat diterima oleh pasar internasional. Sebagai contoh, pasar Thailand lebih menyukai batu-batuan dibanding dengan pasar Singapura. Nah kita harus jeli melihat itu,” tukas Iskandar.

Dengan mengetahui celah market tersebut, diharapkan pertumbuhan ekspor dapat terus meningkat. “Kita tahu komoditas emas perhiasan menempati urutan pertama dalam ekspor non migas,” ulasnya.

Di sisi lain, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengungkapkan, dari periode Januari hingga Agustus 2019, nilai ekspor perhiasan Indonesia mencapai USD 1,47 miliar. “Capaian angka tersebut naik 13 persen dari periode sama (year on year) yang capaiannya sebesar USD 1,3 miliar,” ucapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, negara-negara tujuan ekspor seperti Singapura, Swiss, Hongkong, Amerika Serikat, dan UEA masih mendominasi. “Dengan capaian ekspor yang terus bertumbuh ke arah positif, kami targetkan industri perhiasan Indonesia bisa masuk dalam lima besar dunia tahun depan,” pungkasnya. Seperti diketahui, Indonesia kini masih bertengger di posisi sembilan di perdagangan perhiasan dunia. (rul/nur)

(sb/rul/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia