Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Milenial Bertalenta Perlu Dilibatkan Kembangkan Koperasi Digital

18 Oktober 2019, 17: 17: 02 WIB | editor : Wijayanto

MILENIAL: COO Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Group Firdaus Putra Aditama saat presentasi.

MILENIAL: COO Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Group Firdaus Putra Aditama saat presentasi. (ISTIMEWA)

Share this      

JAKARTA - Generasi milenial bertalenta berpotensi besar untuk menjadi “lokomotif” dalam mengembangkan dan menggerakkan koperasi di era revolusi industri 4.0 yang bercirikan serba digital.

Potensinya cukup besar. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), kaum milenial berusia 20-35 tahun pada tahun 2019 ini mencapai 23,77 persen atau sekitar 64 juta lebih dari total populasi Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa.

Sedangkan menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 lalu, ada 143,26 juta orang Indonesia yang telah menggunakan internet dari total populasi Indonesia. Dimana 49,52 persen adalah kaum milenial.

Chief Operating Officer (COO) Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Group Firdaus Putra Aditama mengatakan, potensi besar kaum milenial itu harus dimanfaatkan terutama yang memiliki talenta.

Caranya, koperasi harus melibatkan generasi milenial bertalenta sebagai pengelolanya  agar gerak langkah koperasi dapat mengikuti perkembangan zaman. Sebab, kaum milenial cenderung kreatif dan inovatif untuk memecahkan masalah.

“Dengan cara begitu, kami yakin koperasi akan semakin maju. Sebab selain kreatif dan inovatif juga selalu bisa mengikuti trend market yang serba digital,” kata Firdaus Putra.

Dijelaskan, ketika kaum milenial sudah masuk ekosistem koperasi, maka mereka harus bisa membawa performance koperasi lebih adaptatif dan responsif terhadap lingkungannya sehingga koperasi tidak asyik dengan dirinya sendiri (inward looking).

“Inward looking itu sudah tidak pas di tengah dinamika yang begitu cepat. Koperasi harus melihat berbagai variabel eksternal yang mempengaruhi bisnis dan ekonomi,” ujarnya.

Sebagai lokomotif baru koperasi, kaum milenial itu bisa mengembangkan bisnis start up atau perusahaan rintisan dengan dukungan layanan yang serba digital berbentuk koperasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama generasi muda.

Kaum milenial juga bisa terus mengeksplorasi kembali berbagai peluang untuk menciptakan layanan-layanan baru yang efektif, efisien dan memberi nilai tambah bagi anggota atau pelanggan.

 “Strategi lain yang bisa dilakukan adalah menggalang kolaborasi atau kerja sama  dengan koperasi lain. Di era revolusi 4.0. ini, berkolaborasi menjadi lebih penting daripada berkompetisi,” tegas Firdaus.

Memang ada kendala masalah pengambilan keputusan di internal, yang bisa terjebak pada birokrasi. Misalnya, keputusan di level manajer, pengurus maupun rapat anggota khusus. Sebab itu, perlu terus diedukasi ke koperasi.

Bagaimana meyakinkan kaum milenial yang bertalenta memasuki koperasi itu keputusan tepat dan mereka mau memanfaatkan ilmu, selera, dan gaya kekiniannya untuk mengembangkan koperasi sehingga bisa bersaing dengan korporasi. (fix/jay)

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia