Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

800 Barang Bersejarah akan Mengisi Museum Pendidikan

18 Oktober 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Eks Taman Siswa yang dipersiapkan untuk menjadi Museum Pendidikan

Eks Taman Siswa yang dipersiapkan untuk menjadi Museum Pendidikan (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

Share this      

SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempersiapkan pembukaan Museum Pendidikan yang berada di Jalan Genteng Kali. Museum yang ditargetkan diresmikan November itu, akan diisi oleh kurang lebih 800 barang bersejarah lintas masa. Mulai dari masa pendidikan pra sejarah sampai pendidikan masa kini. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya Antiek Sugiharti memastikan, eks Taman Siswa yang dipersiapkan untuk menjadi Museum Pendidikan itu masih terus diperbaiki. Bahkan, setiap hari Antiek mengaku terus memantau progres perbaikan gedung tersebut. “Saya dan kawan-kawan Dinas Cipta Karya (Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang, Red) memantau setiap hari. Target saya tanggal 22-24 Oktober ini, saya sudah bisa memasukkan semua koleksi untuk dipindahkan ke sana,” katanya kepada Radar Surabaya, Kamis (17/10). 

Pihaknya terus menyiapkan segala keperluan sebelum museum itu resmi dibuka. Salah satu yang dipersiapkan adalah penyusunan narasi untuk barang bersejarah sesuai dengan historinya masing-masing. “Nanti akan diisi oleh sekitar 800 koleksi, penataannya kami bikin storyline dan ditata sesuai kategori, ada tekniknya, teman-teman tim museum yang ahli itu. Kita bikinkan mulai pendidikan pra sejarah, zaman kerajaan, hingga pendidikan masa kini. Rencananya, bulan depan (November) diresmikan,”ungkapnya. 

Barang-barang itu nantinya akan dipajang berdasarkan klasifikasi di setiap periode perkembangan pendidikan. Menariknya, mulai dari koleksi pra aksara, dimana masyarakatnya belum mengenal tulisan, sampai bagaimana orang tua mengajarkan pendidikan kepada anak-anaknya zaman itu lengkap. “Jadi, bagaimana pada waktu itu orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya juga sudah ada,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Antiek memperinci aneka ragam koleksi yang berhasil dikumpulkan. Di antaranya pendidikan pada masa kerajaan, mulai dari pengenalan sejarah pendidikan masa klasik, mengenalkan huruf jawa honocoroko, kemudian sebuah padepokan pendidikan berbasis agama dan pendidikan di masa kolonial. “Nah, kolonial ini juga dibagi, ada kolonial zaman Belanda dan Jepang. Jadi, ada beberapa koleksi dokumen yang ada pada saat itu, termasuk alat tulisnya,” tuturnya.

Selain itu, koleksi masa perjuangan pahlawan sekaligus Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara juga sudah siap dipamerkan. Bahkan, di museum itu, ada juga infografis yang menceritakan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam meperjuangkan pendidikan di Indonesia. “Lalu benda bersejarah lainnya seperti meja kelas yang ada lubang tintanya, papan tulis kaki, dan bangku. Kami juga mencoba merekonstruksikan tentang pendidikan propaganda Jepang,” terangnya.

Uniknya lagi, di museum itu akan ada peragaan suasana kelas tempo dulu. Bahkan, nanti juga akan menampilkan alat pendukungnya, seperti buku kurikulum SD-SMA, lampu teplok, lampu petromak, ublik, lilin, dan sarana papan tulis. “Termasuk properti gurunya, kita juga cari topi guru sampai sepeda guru zaman dahulu, kita juga carikan,” kata dia. (rmt/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia