Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Batik Klasik Perekam Memori Masa Lalu

17 Oktober 2019, 14: 38: 59 WIB | editor : Wijayanto

BATIK KOLEKSI: Christie Djojo berpose dengan mengenakan busana kain batik salah satu koleksi anggota KIBAS dalam pameran bertajuk Batik Kesayangan di Galeri House of Sampoerna.

BATIK KOLEKSI: Christie Djojo berpose dengan mengenakan busana kain batik salah satu koleksi anggota KIBAS dalam pameran bertajuk Batik Kesayangan di Galeri House of Sampoerna. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Komunitas Batik Jawa Timur (Kibas) kembali menggelar pameran Batik di House of Sampoerna. Pameran batik ini diberi tajuk Batik Kesayangan. Dengan menghadirkan 30 batik klasik dari kolektor batik Jawa Timur (Jatim). Yang masing-masing punya nilai memori masa lalu pemiliknya. Baik memori nostalgia, perjuangan bahkan patah hati. 

Salah satunya seperti koleksi batik dari Nanik Djojo. Kolektor batik asal Surabaya ini memamerkan kain batik kesayangannya yang berwarna coklat muda, khas batik Sidoarjo. Yang merupakan kepunyaan dari sang eyang.

Batik ini memiliki kesan mendalam untuknya, karena membawa memori masa kecil. Di mana batik ini selalu ia pakai sebagai selimut saat berkunjung di rumah eyang. "Dulu ketika SD, sepulang sekolah, saya dan cucu-cucu nenek yang lain selalu berebut tidur di kamar nenek. Nah batik ini yang selalu saya pakai selimut," ujarnya.

Tak hanya menyimpan memori baginya, batik ini juga memiliki kenangan yang magis. Kolektor batik asal Surabaya ini mengakui benar, bahwa batik akan kembali kepada pemiliknya.

"Ketika nenek saya meninggal, semua baju-bajunya dimasukkan dalam peti untuk menopang tubuhnya. Tapi, batik ini tidak diikut sertakan. Selang beberapa tahun kemudian, batik ini sampai ke tangan saya secara tidak sengaja. Saya diberi batik ini oleh sepupu saya, yang waktu itu sedang membagikan batik peninggalan nenek. Waktu tahu yang diantar ini. Wah perasaan saya langsung merinding. Benar ya, batik ini kenal siapa tuannya, dan akan kembali juga pada tuannya," lanjutnya. 

Kenangan batik yang unik juga datang dari kolektor batik sekaligus pengamat batik Lintu Tulistyantoro. Dirinya memamerkan salah satu batik kesayangannya yang menyimpan kisah kegagalan cinta dari sepasang sejoli yang batal menikah, empat puluh tahunan yang lalu. 

Dulu, batik ini merupakan pemberian dari calon pengantin pria. Namun karena suatu hal, si pria membatalkan pernikahannya. Marah dengan keadaan, si calon pengantin wanita ini, mengubah warna dan motif asli dari batik, yang awalnya merah, menjadi warna coklat, dengan motif kipas.

"Saya terkesan dengan ceritanya, oleh karenanya saya pamerkan. Itupun, percaya tidak percaya ini ada kaitannya dengan klenik. Cerita kegagalan cinta ini, diungkapkan sendiri oleh kain batiknya yang bisa berbicara, ketika tersentuh oleh keringat orang yang yang pernah memegang batik itu, betapa luar biasanya ceritanya," ujar Lintu. 

Pameran batik kali ini memang berbeda pada pameran batik sebelumnya, yang sama sekali tidak berbicara tentang motif dan teknik pembuatan. Melainkan cerita-cerita trenyuh, yang membuat batik ini menjadi kesayangan sang kolektor. (ism/nur)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia