Minggu, 23 Feb 2020
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Moh Sandy Alvano, Bocah Tuna Daksa yang Ingin Mandiri

17 Oktober 2019, 12: 36: 25 WIB | editor : Wijayanto

TUNA DAKSA: Sandy (digendong) Sendy saat ditemui di SDN Kupang, Kecamatan Jabon.

TUNA DAKSA: Sandy (digendong) Sendy saat ditemui di SDN Kupang, Kecamatan Jabon. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SURABAYA)

Share this      

Keterbatasan fisik tak menghambat Moh Sandy Alvano mengejar cita-citanya. Bocah kelas 3 di SDN Kupang, Kecamatan Jabon itu tetap berusaha mandiri menjalani pembelajaran dan bermain bersama temannya.

Hendrik Muchlison-Wartawan Radar Sidoarjo

Pagi itu itu di SDN Kupang, memang sedang tidak ada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Seluruh siswa memilih bermain di halaman karena hampir seluruh ruang kelas dalam proses renovasi. Termasuk Moh Sandy Alvano, dia nampak akrab bermain bersama teman-temannya.

Ketika Radar Sidoarjo tiba di halaman sekolah, bocah penyandang tuna daksa itu nampak digendong oleh kembarannya, Moh Sendy Alvano. Tanpa rasa minder, anak dari pasangan Marto,29, dan Lidya Adita, 26, warga Desa Kupang, Jabon itu juga nampak antusias ketika diajak berbincang-bincang. “Kalau besar ingin jadi tentara, bisa perang-perang,” ucap Sandy.

Memang, baju dan celana sekolah yang dia kenakan nampak kusam dan bercampur tanah. Lantaran Sandy memiliki keterbatasan untuk berjalan.  Celananya langsung bersentuhan dengan tanah ketika dia bermain di halaman. Dia biasa menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat tubuhnya guna berpindah tempat. Tak jarang, bocah kelas 3 SD itu juga bergelimpangan di tanah lantaran capek mengangkat tubuhnya.

Sandy juga nampak supel bergaul meskipun bertemu dengan orang yang baru dikenal. Dia menceritakan, jika setiap hari selalu berangkat ke sekolah bergandengan bersama kembarannya.  Ketika di rumah, kedua anak kembar itu juga sering belajar bersama setiap malam selepas maghrib. “Naik sepeda, dibonceng Sendy,” sahut Sandy.

Lasmiyati, 56, Kepala Sekolah SDN Pucang menyatakan kekaguamannya terhadap Sandy. Dia menceritakan, meski dengan kondisi keterbatasan, Sandy selalu berusaha mandiri. “Kalau olahraga atau bermain, dia (Sandy, Red) selalu ikut. Dan nggak mau ditolong kalau jatuh. Dia bangkit sendiri,” ucapnya.

Keaktifan Sandy juga tidak hanya nampak di halaman atau saat bermain saja. Tetapi juga saat mengikuti kegiatan belajar mengajar didalam kelas. Meski belum tentu benar, Sandy selalu berani angkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru. “Aktif anaknya, tidak minder di kelas,” ucap Nisaud Ulul Badriyah, wali kelas Sandy. (*/bersambung)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia