Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Minta Cerai karena Trauma setelah Dikepruk Mertua

16 Oktober 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Entah apa yang merasuki mertua Karin.  Punya mantu tiga, semuanya dimusuhi. Bahkan, kepada Karin, 26, si mertua yang  namanya Mira, 53, ini, melakukan tindak kekerasan. Cenderung berbahaya.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Karin ngotot minta cerai setelah shock telah di-KDRT oleh mertuanya sendiri. Yang hingga saat ini menyisakan trauma tersendiri baginya. Di bangku ruang tunggu konsultasi pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Karin menjelaskan bagaimana traumanya muncul.

Ini semua bermula pada kejadian empat bulan lalu. Karin yang saat itu masih tinggal dengan mertua, sedang mandi siang. Semua terasa normal saja. Ia mandi dengan tenang dan damai. Hingga ketika pintu kamar mandi terbuka Brak! Sebuah kayu yang diayunkan oleh mertuanya, Mira, menghantam kepalanya.

Karin sendiri tak tahu apa yang terjadi kemudian. Karena kejadian itu sangat spontan. Hanya lamat-lamat ia melihat darah segar keluar dari kepalanya. Setelah itu, semuanya makin kabur dan kabur. Karin pingsan.

Bangun-bangun, ia dirawat di rumah sakit. Ia dirawat selama lima hari. Rambutnya yang panjang, harus dibotaki untuk membersihkan luka di kepalanya. “Jare doktere untung gak sampai gegar otak. Untung saja. Karena seingatku, aku sempat menghindar,” ujar Karin.

Setelah kejadian itu, Karin sama sekali tak berani pulang ke rumah mertuanya. Ia juga dilarang balik orang tuanya. Bahkan atas kejadian itu, Donwori, 29, suaminya, sempat dimusuhi oleh orang tuanya.

Namun seakan tidak terjadi apa-apa, tidak ada upaya dari orang tua Donwori untuk meminta maaf. Hanya ayah Donwori saja yang meminta Karin memaklumi perbuatan Mira. Yang sebenarnya, sangat ramashooooook. Karena kalau sudah begini, seharusnya si Mira ditangani oleh dokter kejiwaan.

Setelah kejadian itu, Karin juga tidak berbuat apa-apa. Semua diberesi oleh orang tuanya. Mulai dari meminta Donwori mengontrak rumah saja, atau membiarkan Karin tinggal bersama di rumah orang tua. Namun dasar Donwori belum bisa diajak mikir. Ditawari berbagai alternatif, ia hanya diam saja. Malah membantah usulan itu dan mengajak Karin kembali ke rumah.

Pertimbangannya adalah kata-kata ayahnya yang takut jadi omongan kalau Karin sampai keluar rumah gara-gara kejadian itu. “Waktu itu, orang tuaku yang marah langsung minta Donwori ceraikan aku saja. Saya ya pasrah saja,” lanjut perempuan berkulit kuning langsat ini.

Karin menjelaskan, sejak awal, Mira memang punya perangai aneh. Punya mantu tiga, tak satu pun di antara mantunya yang diperlakukan baik. Kalau tidak dijudesi, dicurigai, ya dicuekin. Dengan alasan yang sampai saat ini Karin sendiri tak tahu. “Kalau gajian ya suami pasti tak minta ngasih, pekerjaan rumah juga tak bantu. Tapi tetap saja, sikapnya seakan saya ini pencuri anaknya saja,” ujarnya.

Karena serumah, Karin sendiri juga kerap mendengar suaminya berdebat dengan sang mama. Biasanya sih masalahnya mainstream. Mira merasa semenjak anaknya menikah, perhatian kepadanya berkurang. Kekesalannya makin parah karena dibumbui iri-irian.

Sebenarnya, aliansi mantunya Mira, begitu Karin menyebut dirinya dan dua iparnya, sudah banyak mengeluh tentang mertuanya. Bahkan, saking tak kuatnya, iparnya yang pertama memaksa suaminya untuk tinggal sendiri. Ngontrak pun tak masalah. Saking negatif terus bawaannya kalau tinggal dengan mertua.  “Tapi aku ya gak nyangka kalau sampai tindakannya ekstrim begini,” lanjut Karin.

Di tengah Karin mengurus cerai ini, ia mendapatkan kabar mengejutkan. Sebuah plot twist terhadap kejadian yang dialami. Cerita ini disampaikan oleh saudara Mira. Yang mengatakan bahwa kala itu, sasaran Mira sesungguhnya bukanlah dirinya. Namun ipar keduanya. Yang Mira anggap sedang mandi kala itu. Jadi sebenarnya, adegan pemukulan itu tidak direncanakan untuk menyakiti Karin.

Namun, tetap saja Karin merasa ngeri. Pertanyaan kok bisa-bisanya, tetap saja berputar di otaknya. Pasalnya, kata Karin, kakak ipar keduanya ini tanpa cela. Baiknya minta ampun. Tidak ada marahnya. Istilah jawanya, ora ono unine. Pendiam pol. Manut apa kata mertua juga. Apalagi bikin masalah, tidak pernah. Namun, kenapa sampai mertuanya mau mukul itu yang tetap tidak bisa dicerna nalarnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia