Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Industri di Gresik Dukung Pelarangan Migor Curah

15 Oktober 2019, 18: 25: 52 WIB | editor : Wijayanto

MULAI JARANG: Salah satu penjual sedang menunjukkan migor kemasan di tokonya.

MULAI JARANG: Salah satu penjual sedang menunjukkan migor kemasan di tokonya. (ISTIMEWA)

Share this      

GRESIK - Produsen minyak goreng (migor) di Kabupaten Gresik mendukung langkah pemerintah dalam melarang penjualan migor curah. Selain berpotensi merusak pasar, kandungan yang terdapat dalam migor curah membahayakan.

Manager Humas dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Wilmar Nabati Indonesia, Hartono Subeki mengungkapkan, migor curah ada yang berasal dari minyak bekas atau jelantah disaring dengan zat tertentu. Biaya produksinya jauh lebih murah dibandingkan minyak curah dari pabrik. “Harga migor curah yang harganya tak sampai separuh dari migor kemasan,” katanya.

Padahal, kata Hartono, zat-zat pengolah minyak jelantah berbahaya bagi kesehatan. Salah satunya, meningkatkan kolesterol dan memicu kanker. Untuk itu, Wilmar mendukung rencana pemerintah melarang penggunaan migor curah. Terlebih, saat ini belum ada sistem yang mengawasi perdagangan migor jelantah.

“Kalau sudah kemasan, ada merek dagang ada dan produsen. Kalau curah, siapa yang bisa mengontrolnya. Pembeli yang awam memilih minyak berdasarkan harga yang paling murah," paparnya. Untuk itu, Wilmar tidak pernah menjual curah di pasar ritel. Minyak goreng curah Wilmar didistribusikan kepada industri yang menjadi rekanan sesuai aturan pemerintah. “Industri yang membeli minyah curah harus memiliki legalitas yang jelas. Kalau belum (lengkap), tentu kami tidak bisa melayani,” tandasnya.

Manager Produksi PT Karunia Indah Alam Segar (KIAS), Andrea Jonathan mengaku, rata-rata produsen migor curah merupakan pelaku usaha rumahan (home industri) belum mengantongi izin usaha. “Biasanya mereka beli dalam bentuk drum, kemudian dikemas plastik satu literan dan dipasarkan ke pasar tradisional,” imbuhnya.

Karena biaya pengemasan yang sederhana, membuat harga migor curah jauh lebih murah di pasaran. Pedagang makanan atau gorengan lebih tertarik membeli minya curah daripada memiliki merk dagang. “Setuju dengan rencana pemerintah untuk penerapan kebijakan ini sehingga memberikan dukungan terhadap industri lebih pasti dan jelas,” tandasnya. (fir/han)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia