Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Ketika Abdullah Azwar Anas Rilis Buku Marketing

Dihadiri Kiai, Banyak yang Minta Tanda Tangan

15 Oktober 2019, 17: 03: 07 WIB | editor : Wijayanto

AKRAB: Abdullah Azwar Anas menandatangani buku-bukunya yang dibagi gratis kepada sahabat-sahabatnya.

AKRAB: Abdullah Azwar Anas menandatangani buku-bukunya yang dibagi gratis kepada sahabat-sahabatnya. (ISTIMEWA)

Share this      

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menulis buku. Judulnya Anti Mainstrean Marketing. Isinya, 20 jurus kreatif mengubah Banyuwangi.  Kemarin (14/10), buku itu dikenalkan pada sahabat-sahabatnya.

Novilawati Anisa-Wartawan Radar Surabaya

Perkenalan bukunya itu dibuat secara sederhana. Hanya 25-an orang yang diundang. Tapi, karena punya banyak teman, yang datang pun membengkak dua kali lipat. Hingga Library Café di lantai II Dyandra Convention Center, tempat berlangsungnya acara, penuh sesak.

Para tamu yang datang pun, mencerminkan sosok Anas yang dikenal pandai bergaul. Mulai masyarakat umum, mahasiswa, jurnalis, pengusaha, banker, akademisi, pejabat pemerintahan hingga kiai.

Duduk di bean bag warna-warni, tampak Senior Direktur PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus, Ferdian Timur Satyagraha (Direktur Keuangan Bank Jatim), Azrul Ananda (Presiden Klub Persebaya), Difi Ahmad Johansyah (Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur), Joni Hermana (rektor ITS 2015-2019), hingga KH Agoes Ali Mashuri (pengasuh Pondok Pesantren Bumi Salawat, Sidoarjo). Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf juga tampak di antara para tamu yang datang.

Anas mengaku, salah satu ide menulis buku itu karena saking banyaknya orang yang bertanya kepada dirinya, kok bisa Banyuwangi menjadi hebat seperti sekarang. Padahal, dulu, kota di ujung timur Pulau Jawa itu lebih dikenal dengan klenik dan santetnya.

“Alhamdulillah sekarang,  sudah banyak yang datang. Tidak hanya orang Surabaya atau orang Indonesia saja, tapi juga bule-bule dari banyak Negara. Juga banyak pemda-pemda yang dating untuk belajar,” ungkap pria 46 tahun itu.

Anas yang memimpin Banyuwangi sejak sembilan tahun lalu itu lantas bercerita. Tidak gampang menjadikan Banyuwangi seperti sekarang ini. Butuh kreativitas tingkat tinggi. Intinya, butuh kerja keras, komunikasi, sabar, dan tahan malu. Juga butuh kerjasama yang hebat antara dia sebagai orang nomor satu di pemerintahan Banyuwangi, dengan staf serta masyarakatnya. “Selama menjabat, saya ini sudah 47 kali didemo,” aku Anas disambut tawa sejumlah tamu undangan.

Ia juga mengaku diuntungkan dengan perkembangan teknologi. Salah satunya, perkembangan media sosial alias medsos. “Medsos membantu saya mempromosikan Banyuwangi secara gratis. Kalau dating ke Banyuwangi, difoto lalu diupload di medsos. Itu kan memudahkan pekerjaan kami,” akunya.

Anas juga mengatakan setiap keluhan, kritikan, atau pun pujian yang dilewatkan medsos, ia upayakan meresposnnya dengan cepat. Bahkan, pada setiap tamu yang datang ke tempatnya, Anas berusaha untuk bisa menemui. “Supaya mereka bahagian sudah bisa datang ke  Banyuwangi,” pungkasnya.

Di akhir ngobrol santai sekitar 2,5 jam itu, para peserta pun berebut untuk minta tanda tangan di buku bersampul merah menyala itu. Anas pun dengan sabar membubuhkan tanda tangan di lembaran pertama buku setebal 426 halaman itu. (opi)

(sb/opi/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia