Kamis, 14 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

DLH Ambil Sampel Air dan Minyak

15 Oktober 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

AMBIL SAMPEL: Petugas DLH Surabaya memeriksa air dari semburan lumpur dan minyak yang menyembur di kawasan Kutisari Indah Utara, Surabaya, Selasa (14/

AMBIL SAMPEL: Petugas DLH Surabaya memeriksa air dari semburan lumpur dan minyak yang menyembur di kawasan Kutisari Indah Utara, Surabaya, Selasa (14/10). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Semburan minyak dan gas di Kutisari Indah Utara III Nomor 19, Surabaya, sudah terpisahkan secara bertahap melalui separator. Petugas Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya juga sudah mengambil sampel hasil pemisahan minyak dan air tersebut. 

Kepala Seksi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Ulfiani Ekasari mengatakan bahwa hasil pemisahan tersebut nantinya akan dipantau selama tiga hari untuk memastikan pemenuhan baku mutu. 

"Kami sudah ambil sampelnya. Dari penyaringan pertama di dalam separator sudah terlihat hasil yang positif. Sudah ada empat sampel. Yang terakhir airnya sudah tidak lagi bercampur minyak," katanya kemarin (14/10).

Ulfi menjelaskan, ketika sudah terpisah dengan minyak, maka air bisa dibuang ke selokan. Tidak mencemari lingkungan. "Hasilnya cuma selisih 10 ppm. Karena bakteri butuh penyesuaian, maka kami pastikan memenuhi baku mutu," terangnya.

 Setelah tiga hari dalam pengawasan, nantinya air itu akan dibuang ke selokan. Kualitasnya dinilai lebih baik daripada air limbah kamar mandi. "Ketika dibuang nanti, airnya sekitar 300 ppm," ungkapnya.

Hhingga Senin (14/10), DLH dan DKCTR terus melakukan pemasangan alat separator hingga uji alat pemisah air dan minyak bumi itu. "Minyaknya di atas, air di bawah. Kemudian air dimasukan ke tank kedua yang sudah ada air. Layak tidaknya di tanki yang terakhir," terangnya.

Tandon tersebut, menurut Ulfi, bisa menampung 550 liter. Ulfi menyebut dua hari terakhir semburan yang tertampung berkurang 75 liter dibandingkan dengan sebelum pemisahan yang mencapai 3.200 liter. "Minyak di dalam tandon akan kami taruh di dalam drum," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sedang melakukan koordinasi dengan SKK Migas agar minyak mentah itu bisa ditampung dan diolah. "Sebab, yang mengelurkan perintah SKK migas, bukan wewenang DLH," katanya. (rmt/rek)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia