Minggu, 15 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Teknologi Kian Pesat, OJK Gencarkan Literasi Keuangan

11 Oktober 2019, 17: 12: 22 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi OJK

Ilustrasi OJK (DOK/JPC)

Share this      

SURABAYA - Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin pesat, peran perusahaan jasa keuangan dituntut semakin gencar melakukan literasi keuangan ke masyarakat. Agar pemahaman mereka tentang lembaga keuangan semakin baik.

Menurut Kepala Departemen Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W Budiawan, saat ini peran OJK dan lembaga keuangan juga semakin berat di tengah arus perkembangan dunia digital yang semakin pesat. Pasalnya, saat ini banyak masyarakat yang menjadi korban lewat pinjaman online atau financial technology (fintech) illegal. Hal ini akibat masih banyaknya yang masyarakat yang belum sepenuhnya memahami literasi keuangan.

“Setiap bulan ada sekitar 70 – 100 kasus korban fintech illegal. Namun masyarakat masih terus ingin mencoba. Karena itu, ini menjadi tantangan OJK dan lembaga keuangan kedepan,” kata Bambang.

Pihaknya terus mengajak seluruh perusahaan dan lembaga keuangan maupun asosiasi untuk bersama-sama terus meningkatkan kegiatan literasi dan inklusi keuangan. Agar ke depan masyarakat semakin melek terhadap literasi produk keuangan. “Asosiasi menjadi garda depan agar semakin banyak melakukan kegiatan inklusi keuangan sampai ke masyarakat yang literasi keungannya masih rendah,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menambahkan, pihaknya secara kontinyu melakukan kegiatan semacam pameran yang melibatkan puluhan perusahaan pembiayaan.

Selain bertujuan untuk meningkatkan literasi produk keuangan terhadap masyarakat dari berbagai perusahaaan anggota APPI, pihaknya juga ingin terus meningkatkan kinerja anggota APPI. Pasalnya, lembaga pembiayaan berkontribusi untuk pembangunan ekonomi Indonesia.

“Potensi Surabaya dan Jatim cukup besar. Dari penyaluran kredit mobil dan motor secara nasional  Rp  200 – 250 triliun, Surabaya nomer dua setelah Jakarta yakni  Rp 30 – 40 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 pesen untuk kredit konsumtif dan sisanya untuk kredit produktif dan investasi,” ujar Suwandi. (fix/nur)       

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia