Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Sisa 3 Bulan, Perbankan Optimalkan Kuartal 4 Kejar Target

08 Oktober 2019, 17: 57: 53 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi perbankan

Ilustrasi perbankan (DOK/JPC)

Share this      

SURABAYA - Meskipun pasar properti masih lesu, perbankan tetap optimistis bisa menggenjot penyaluran kreditnya. Sisa waktu tiga bulan ke depan akan digunakan untuk meningkatkan kinerja.

Menurut Erwan Djoko Hermiawan, CEO Bank Mandiri Regional 8 Jatim, kondisi pasar properti masih tumbuh di Surabaya. Hal ini imbas dari tumbuhnya sektor industri dan perdagangan di Kota Pahlawan. Ada beberapa investor yang berinvestasi membangun pabrik di sini.

Sehinga kebutuhan properti ikut terdorong baik landed house maupun apartemen. “Surabaya masih menarik. Banyak pengusaha yang mengembangkan usahanya disini. Sehingga berimbas pada kebutuhan properti,” ujar Erwan, beberapa waktu lalu.

Dikatakan, pertumbuhan pasar properti di Surabaya bahkan diklaim lebih tinggi dari pertumbuhan industri dan perdagangan. Kalau sektor industri dan perdagangan naik dari 9 ke 10 atau 11 persen, maka sektor properti naik dari 9 ke 12 persen.

Pihaknya optimis hingga akhir tahun ini target penyaluran kredit pemilikan rumah atau apartemen (KPR/KPA) sebesar Rp 7 triliun akan tercapai. Hingga kuartal ketiga tahun ini, pencapaian target sudah mencapai 96 persen.

“Sisa waktu tiga bulan akan kami maksimalkan. Sekitar 65 persen kredit kami terserap di perumahan. Sisanya di apartemen. Kami yakin tahun ini tumbuh 10-12 persen,” tandas Erwan.

Rudy Harsono, Kepala Kantor Kredit Konsumer BCA Surabaya (K3S) mengatakan, hingga semester dua tahun ini secara umum pasar properti masih belum menggembirakan. Hal ini akibat dari  kondisi ekonomi makro yang masih belum pulih.

“Perang dagang Amerika dan Tiongkok ikut mempengaruhi melambatnya ekonomi makro. Pasar property sampai semester dua masih belum ada pemulihan,” kata Rudy via handphonenya.

Selain itu, masih banyak orang yang memegang dana belum berani membelanjakan dananya. Mereka masih bersikap menunggu situasi dalam negeri. Apalagi saat ini juga berkembang isu akan terjadi krisis pada beberapa negara besar.“Yang punya dana masih wait and see. Mereka masih menunda investasinya,” tambahnya.

Namun begitu, pihaknya tetap yakin mampu menggenjot penyaluran kredit hingga akhir tahun nanti. Waktu tiga bulan akan dimanfaatkan secara maksimal. Pihaknya juga ada autoshow.

“Momen ini kami manfaatkan untuk menaikan kredit dengan program khusus, seperti bunga 6,75  dan 7,5 persen tanpa syarat apapun,” kata Rudy tanpa mau menyebut target tahun ini. (fix/opi)

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia