Sabtu, 25 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik

Kasus Pembacokan di Dukun, Pelaku Diperiksa Kejiwaan, Warga Trauma

08 Oktober 2019, 14: 55: 30 WIB | editor : Wijayanto

BEZUK: Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo saat menjenguk korban Kamsinga yang mendapat perawatan di RS Ibnu Sina.

BEZUK: Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo saat menjenguk korban Kamsinga yang mendapat perawatan di RS Ibnu Sina. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Penyelidikan kasus pembacokan yang dilakukan Suwoto, 56 terhadap menantu dan istrinya terus berlanjut. Kemarin, pelaku dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk pemeriksaan kejiwaan.

Hal ini seperti yang disampaikan Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo saat mengunjungi Kamsinga, 54 istri pelaku yang saat ini dirawat di RSUD Ibnu Sina karena luka bacok.

"Memang kondisi pelaku mengalami gangguan jiwa. Bahkan, saat diperiksa komunikasinya cenderung maunya sendiri. Sehingga, penyidik menunggu hasil kondisi pelaku stabil dulu," ujar Kapolres.

Sementara itu, Kamsinga masih tergolek lemas di kamar Dahlia nomor 7, RS Ibnu Sina, Gresik. Luka bekas sabetan tajam di pungunggung wanita yang tinggal di Desa Mundulrejo, Dukun, Gresik itu masih terasa nyeri. Melihat kondisinya itu, pihak keluarga belum menceritakan tentang kondisi menantunya, Erna,47, yang sudah tewas.

Di atas tempat tidur, Kamsinga mencoba menjelaskan tentang kondisi Suwanto. Menurutnya, pelaku memang sudah lama mengalami gangguan jiwa. Bahkan sejak ia mengenalnya. Suwanto seringkali birgumam sendiri tanpa sebab. Tak jarang, ia juga sering mengamuk.

“Sebab dia (Suwanto, Red) marah juga juga tidak jelas. Tiba-tiba saja emosinya naik,” ungkap Kamsinga.

Dia mengatakan karena kondisi Suwanto itu, ia sering memperoleh kekerasan fisik. Tak jarang ia dipukul bahkan dicekik. Namun jika tak lagi kambuh, sikap Suwanto sangat baik dan sabar. Berbading terbalik dengan kondisinya jika sudah kambuh.

“Suami saya sudah hampir belasan kali dibawa ke RS Menur. Tak dipasung, hanya diberikan obat saja,” terangnya.

Menurut ibu yang sempat memiliki tiga anak itu (dua diantaranya meninggal), sebelum kejadian  Suwanto memang waktunya untuk kontrol. Sebab biasanya sebulan sekali, dia harus menjalani perawatan dan penebusan obat. Hanya saja saat waktunya kontrol, kebetulan Sabtu dan Minggu.

“Dokternya tak ada. Anak saya juga kerja di Bojonegoro. Sepertinya suami saya telat kontrol saja,” ujarnya.

Saat Kejadian, Kamsinga duduk di dalam rumah. Dia beranjak dari tempat duduknya setelah mendengar jeritan Erna. Lalu saat masuk, dia mengatahui jika menantunya itu sudah bersimbah darah.

“Dia (Erna, Red) sepertinya dibacok di bagian pipi. Semoga menantu saya juga baik-baik saja dan segera pulih,” tandasnya.

Sementara itu, kakak ipar Kamsinga, Maroainah mengatakan pihak keluarga memang belum memberi tahu kondisi Erna yang sudah tewas kepada Kamsinga. Sebab, saat ini kondisi korban masih belum stabil.

“Nanti kalau sudah membaik, akan kami beritahu pelan-pelan,” ungkapnya sambil bisik-bisik.

Akibat kejadian ini, warga Desa Madumulyorejo trauma. Mereka meminta agar pelaku tidak dibawa pulang ke desa.

Kastiah, salah satu tetangga pelaku, hanya bisa mengelus dada saat ditemui dirumahnya. Wanita berusia 70 tahun itu berjalan menghampiri rumah Suwoto yang berada persis disamping rumahnya itu sambil memegangi tembok sambil berjalan tertatih.

"Saya masih ingat betul kejadian kemarin, saya baru selesai salat lalu melihat tetangga saya di bacok oleh suaminya sendiri dan menantunya pun ikut di bacok pelaku hinngga meninggal saat dilarikan di Puskesmas Desa Mentaras," ujarnya tangannya sambil bergetar karena trauma melihat kejadian tersebut.

Dia langsung duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu di depan rumah Suwoto. Kemudian dia menunjukkan bahwa di dalam rumah itu masih banyak darah. Darah itu, luka dari leher Erna , 47 , menantu pelaku yang dibacok dengan sabit dan darah Kamsinga , 54 , istri pelaku sendiri.

Kemudian, pelaku yang keluar rumah sambil menenteng sabit saak akan diamankan warga juga membuat warga trauma. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.

"Yaa Allah masih banyak darah disana, bawa sabit keluar rumah darahnya masih menetes di depan rumah," ujarnya.

Suasana di Dusun Madumulyorejo, Desa Mentaras itu tampak sepi dan lenggang. Tidak ada aktivitas berarti dari warga sekitar. Hanya ada anak kecil yang sedang bermain di teras rumah warga. (*/rof)

(sb/yud/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia