Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara ke Pengunjung CFD

08 Oktober 2019, 13: 30: 07 WIB | editor : Wijayanto

CAMPAIGN: Di antara pengunjung Car Free Day model menggelar poster tentang deteksi dini kanker payudara di Jalan Raya Darmo, Minggu (6/10).

CAMPAIGN: Di antara pengunjung Car Free Day model menggelar poster tentang deteksi dini kanker payudara di Jalan Raya Darmo, Minggu (6/10). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Rumah Sakit (RS) Adi Husada Undaan Wetan Surabaya bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jawa Timur menggelar acara Zumba Deal With Pinks di Car Free Day (CFD) Raya Darmo, Minggu (6/10).

Selain untuk memeringati bulan kanker payudara sedunia atau yang biasa disebut pink days, tujuan acara tersebut adalah untuk membangun kesadaran tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara.

Direktur Utama RS Adi Husada Undaan Wetan, dr Irawati Marga menjelaskan, kanker payudara merupakan jenis kanker dengan presentase terbanyak diderita oleh masyarakat. Ironisnya sangat banyak pasien kanker payudara yang berobat ketika sudah memasuki stadium lanjut. Hal ini merupakan tanda-tanda pasien belum begitu sadar dengan kondisi tubuhnya.

"Oleh karenanya, kami adakan acara ini. Zumba ini sebagai pancingan agar orang berkumpul. Pesan utamanya, kita mengajak agar peserta CFD yang datang dari berbagai latar belakang yang sudah sadar kesehatan ini semakin sadar tentang kanker dan membagikan awareness kepada masyarakat lain," ujarnya.

Di tengah-tengah zumba, Ira dan Tim dari AHCC juga menyelipkan sosialisasi Sadari. Yakni prosedur mendeteksi dini kanker payudara dengan mengamati bentuk fisik payudara yang bisa dilakukan secara mandiri.

SADARI: Cara memeriksa payudara sendiri dari gejala kanker.

SADARI: Cara memeriksa payudara sendiri dari gejala kanker. (ISTIMEWA)

Sadari ini bisa dilakukan dengan tiga tahap. Pertama dengan menentukan waktu yang tepat untuk mengevaluasi payudara sendiri. Yakni di hari ke tujuh hingga sepuluh hari seusai menstruasi. Dalam rentang waktu ini, hormon dan tubuh sudah normal dan tidak terpengaruh oleh perubahan hormon saat menstruasi.

"Karena menstruasi sebenarnya proses kecelek. Setiap bulan, ovarium menghasilkan telur. Karena adanya calon bayi ini, maka rahim dan bagian tubuh lain mempersiapkan diri. Salah satunya payudara menjadi lebih padat. Karena tidak ada yang membuahi, maka telur luruh jadilah proses menstruasi. Makanya, kalau memeriksa tubuh pada saat mens kemungkinan bentuk payudara juga berbeda," ujarnya.

SOSIALISASI: Senam zumba yang digelar di arena CFD.

SOSIALISASI: Senam zumba yang digelar di arena CFD. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Yang kedua adalah periksa pandang. Hal ini dilakukan dengan telanjang dada di depan cermin. Kemudian angkat kedua tangan dan amati  puting. Apakah puting sejajar antara kanan dan kiri. Jika tidak sejajar lebih dari 10 persen, maka perlu diwaspadai adanya kanker payudara. Amati juga apakah puting terlihat seperti kulit jeruk yang menandakan ada sel kanker di dalam payudara.

Ketiga adalah meraba puting dengan tiga jari searah jarum jam sampai ke ketiak. Prosedur ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada benjolan di area tersebut. Jika iya, maka harus waspada karena itu tanda-tanda awal adanya kanker payudara.

Sekretaris YKI Jawa Timur Estiningtyas Nugraheni menambahkan, jika dari tiga deteksi mandiri ini menunjukkan adanya tanda-tanda kanker, maka perlu segera mendatangi dokter spesialis bedah.

Dokter akan membantu mendeteksi lebih lanjut apakah kelainan tersebut memang kanker atau hanya tumor. "Nanti oleh dokter bisa diarahkan untuk melakukan tes lanjutan dengan mamografi bagi yang sudah menikah, atau USG bagi yang muda. Deteksi dini sangat perlu karena semakin dini ketahuan, maka semakin cepat ditentukan penanganan yang tepat dan kemungkinan survive juga lebih tinggi,” paparnya. (ism/jay)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia