Jumat, 18 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Mengandakan Harta Orangtua, Istri Kelabakan Penuhi Nafkah

06 Oktober 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Sak sugih-sugihe, yo ojok ngandelno duwit wong tuwomu nyel gawe nguripi anak bojomu bro!  Yo kon, iso swante sak karepmu. Bojomu? Bingung, kate melu njaluk tapi sungkan. Gak njaluk raiso njajan. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Dengan membawa dua anak kembarnya yang masih kecil, Karin mendatangi Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin (4/10). Kemarin itu adalah sidang cerai pertamanya. Dengan Donwori, suaminya. Di tengah antrean panjang, ia duduk di bangku ruang tunggu.

Sejurus kemudian seorang wanita paruh baya di sampingnya menyapanya. " Duh, anaknya lucu-lucu, mamanya juga cantik. Ngurus cerai ini, Mbak? Gak eman ini ya suaminya," ujar ibu-ibu berkerudung itu. 

Untung Karin bukan perempuan baperan. Ditanyai perihal sensitif, ia tidak marah. Dengan senyum simpul di wajahnya, ia membalas. "Pun mboten kuat, Bu. Ini sudah jalan terbaik," kata Karin menimpali. 

Dari saling lempar pertanyaan dan jawaban, sedikit-sedikit kisah Karin terkuak. Bagaimana keluarga kecil yang semua personelnya good looking alias cakep ini bubaran. Semua lantaran suaminya yang belum bisa mandiri. Tak sadar punya tanggungan istri dan anak, dia masih mengandalkan hidup dari jatah orang tua. 

Karin menjelaskan, mertuanya memang kaya raya. Andaikan Donwori minta terus-terusan pun tak akan berkurang secuil pun harta kekayaannya. Sebenarnya kalau bisa dimanfaatkan dengan baik, kekayaan ini berkah juga. Hanya saja, sang anak, Donwori malah keenakan. Saking keenakannya tidak mau berusaha. 

Di awal-awal menikah, Donwori masih kerja layaknya "orang normal". Namun tiba-tiba ia resign. Melepaskan pekerjaannya berkedok mau bantu usaha orang tua. Padahal Karin sendiri tahu, Donwori bisanya hanya ngrusuhi.

"Dulu awal-awal, kami tinggal di rumah sendiri. Terus Mas Wori gak punya pemasukan. Berat, Bu mau tinggal sendiri. Yang ada hasilnya bertengkar terus karena gak ada uang untuk sekadar makan lho sampekan," lanjutnya. 

Itulah awalnya Karin mengusulkan untuk pisah saja. Namun dihalang-halangi Donwori. Ia pun memberikan solusi krisis ekonominya dengan alternatif yang blas gak masuk akal. Usulannya adalah Donwori mengajak Karin untuk tinggal bersama orang tuanya. Numpang hidup, numpang makan, numpang segalanya. 

Donwori sih enak. Namanya anak, sendablek-ndableknya pasti minta apa-apa tetap diberi. Lah Karin yang serba salah. Masa mau ikut-ikutan minta orang tua. Ya tidak mungkin. Padahal sebagai manusia "hidup" yang nafasnya (untung) gratis, masih perlu uang untuk ini dan itu. Apalagi dia muda, masih perlu dandan, masih perlu hangout bareng kawan.  Ya masak mau malak mertua juga.

"Lagian serba salah, Bu, tinggal dengan mertua. Serba ndak nyaman mau apa pun. Kok salah terus rasanya saya," ujarnya, hati-hati. Mungkin dia sadar lawan mainnya juga sudah nampak mertuaable alias sudah punya mantu. 

Karena putus asa mendorong suaminya berdikari, lebih tegas dan trengginas bekerja, Karin pun minta cerai. Mencari pendamping yang pasti-pasti saja. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia